Ihwal Tradisi Ramadhan; Yang dibenci tapi di Rindu

Senin, Juli 08, 2013 di Senin, Juli 08, 2013

Ramadhan,  bulan cinta umat Islam yang selalu dinanti kini sudah diambang pintu. Tentunya bagi pemeluknya di belahan bumi manapun segera menyambutnya dengan penuh suka cita. Begitu pula dengan masyarakat di Indonesia. Adanya pengaruh bauran budaya secara turun temurun akhrinya ikut memberi andil mempengaruhi tradisi dalam masyarakat.  Tradisi yang mengakar telah memberi warna ramadhan atau kebiasaan kebiasaan unik pada umumnya  yang sangat sering kita lakukan hingga bahkan malah akhirnya menjadi perdebatan kusir di warung kopi 

1. Lebarannya 'dua kali'

Awal Ramadan berdasarkan Rukyat dan Hisab

Beberapa tahun terakhir, karena perbedaan mazhab sehingga perayaan hari raya idul fitri menjadi tak serentak. Masing masing umat yang menjadi bagian dari mazhab tersebut saling meyakini bahwa perhitungan jatuhnya satu syawal berdasarkan dari pemahaman mereka dengan bersandar pada keyakinan masing masing. 

Bagi kalangan NU (Nahdatul Ulama) menggunakan metode Rukyah yaitu berdasarkan fakta fisik, dengan cara 'melihat' dengan mata baik mata telanjang maupun dengan alat ukur astronomis, hisab berdasarkan ilmu dan hitungan matematis (Astro Geodesy). Dasar mereka yang menggunakan rukyat adalah Surat Al Baqarah, ayat 185 : "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. "



Lain lagi dari kalangan Muhammadiyah. Dasar yangdigunakan adalah metode hisab (Perhitungan) dengan bersandar pada Surat Al Rahman, ayat 5 : "Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.". Islam selalu mengikuti perkembangan jaman dengan tetap mengacu kepada koridor Alquran dan Hadist sebagai pedoman Hidup. Dijaman sekarang, kita tak bisa menafikan pemanfaatan teknologi tentu untuk lebih memudahkan serta mengakurasi tingkat ketepatan penampakan bulan pada satu syawal. Tidak secara penampakan kasat semata. 

Salah seorang kerabat yang kebetulan sekolah di sebuah perguruan tinggi negeri di Jogjakarta,  mengatakan bahwa sewaktu memperoleh pelajaran Hitungan Astronomi dan Astro Geodesi sewaktu kuliah, perhitungan penentuan hilal seperti itu dapat diketahui secara akurat. Sehingga beliau pun yakin terhadap hasil perhitungan dari pelajaran hasil hitungan astronomi. Namun kenyataannya, ilmu astronomi ini terbatas dan hanya popular bagi umat Islam atau mereka yang mungkin kebetulan sempat mempelajarinya. Jadi, surat Al Baqarah ayat 185 diatas lebih 'PAS' untuk digunakan. Kalau sudah rukyat, biasanya hisab pasti sudah terpenuhi, namun belum tentu sebaliknya.

Disisi lain, rukyat bisa saja tak terpenuhi jika pada saat itu cuaca sedang mendung atau pandangan terhalang oleh awan hitam sehingga hilal tak terlihat oleh kasat mata. Terlepas dari kedua pemahaman tersebut, yang pasti masing masing 'syah' saja meyakini mashab masing masing. Ada yang menyerahkan sepenuhnya kepada hasil sidang isbat penentuan dari pemerintah karena berfikir keputusan dari pemerintah, dalam hal ini ulil amri tentulah tak akan menyesatkan. Kalaupun hasilnya salah, tentu dosa akan kembali kepemimpin atau yang memutuskannya. Walhasil, dari konsistensi pemahaman itu, Tanggal perayaan hari lebaran pun menjadi beda.

Hanya di Indonesia…

2. Ziarah Kubur / Nyekar / Mappabunga


Sudah menjadi tradisi  keluarga kami dan juga mungkin hampir di semua penduduk muslim di Indonesia setiap tahunnya sesaat menjelang memasuki hari pertama ramadhan tumpah ruah ke pemakaman/ pekuburan umum dan keluarga. 

Sepertinya ini sudah menjadi tradisi yg ‘wajib’. Menziarahi kuburan para leluhur,  Handai taulan serta kerabat yang lebih dahulu berpulang kehadirat, sekedar mengenang kembali masa saat masih bersama di tengah keluarga. Memanjatkan doa, sekedar mencabuti rumput dan memberi kembang serta menyiramkan air dengan harapan simbol 'memberikan kesejukan serta keharuman' agar yang telah berpulang Entahlah siapa yang memulai tradisi ini. Tapi pada hakekatnya niatnya adalah mengirimkan doa agar arwah yang telah berpulang itu senantiasa dilapangkan kuburnya serta mendapatkan derajat tertinggi disisi NYA.

Tak ayal lagi,  jalanan disepanjang area pemakaman pun menjadi macet. Para kendaraan peziarah yang terparkir di pinggir jalan mengambil sedikit ruas jalan membuat kendaraan lain menjadi melambat dan bahkan menyebabkan macet. Para  ‘uztad pembaca doa’  dadakan jadi kebanjiran job hingga kadang lafadz doa yang dibaca tak lagi jelas artikulasinya. Belum lagi para penjaja bunga, pengemis serta penjual air yang saling berebutan mencari pembeli membuat suasana pemakaman yang biasanya sepi malah ramai layaknya Mall.

Hanya di Indonesia …

3. Petasan, Meriam Bambu & Balapan liar




Sebagai orang yang tinggal di pemukiman umum, petasan dan meriam bamboo sudah menjadi pemandangan biasa bagi kami. Heran juga, meskipun dilarang selama bulan ramadhan, penjualan petasan ini tetap saja ada disana sini. Anak anak kecil sekitar rumah kami menjadikan petasan itu sebagai puncak hiburan diwaktu jelang sholat taraweh hingga sahur tiba. Kadang keisengan mereka sudah melebihi batas dengan sengaja membuang petasan yang sudah tersulut ke para teman remaja putri yang hendak menuju mesjid.

Tentu saja si ‘korban’ remaja putri ini menjadi kaget dan ketakutan karena bunyi ledakan yang secara tiba tiba meledak didekat mereka.  Anak kecil yang membuang petasan tersebut pun jadi tertawa terbahak dengan seringai puas.

Tapi seiring waktu, pelaku petasan itu tak lagi didominasi oleh anak kecil dibawah umur yang sejatinya belum terlalu mengerti apa apa selain tuk bermain. Pemain petasan pun berganti menjadi remaja tanggung yang meledakkan meriam bambu, yaitu sebuah bambu yang telah dirancang seperti laiknya meriam asli dan disulut dengan sumbu dan minyak tanah hingga menghasilkan suara menggelegar. Remaja dan orang dewasa yang harusnya memberi contoh itu justru lebih mendominasi permainan ini bahkan tanpa malu kerap melakukannya dipinggir jalan terbuka  pada malam malam ramadhan.

Sekali lagi, hanya di Indonesia …

0 komentar: