Milestone 33; - Nobody's Perfect

Kamis, Juni 27, 2013 di Kamis, Juni 27, 2013


Milestone, adalah patok patok batu/ beton yang ditanam dipinggir jalan raya. Fungsinya sebagai penanda pencapaian dalam perjalanan, atau penunjuk seberapa jauh perjalanan yang telah dan akan ditempuh untuk mencapai suatu tujuan.

Foto  batu Milestone ini iseng saya ambil dua hari lalu saat dalam sebuah perjalanan dari kabupaten Pangkep menuju Maros tepatnya di jalan poros pangkep- maros yg jaraknya sekitar 33 meter dari kota Makassar.

.. Hari ini saya  genap berusia Tiga Puluh Tiga Tahun

yah, ibarat Milestone pada jalan itu, usia 33 ibarat setengah perjalanan dari arah yang ingin dituju. saya belum tau sampai berapa arah tujuan itu. Yang pasti sedikit mengingat kebelakang, di milestone 33 ini bisa berarti saya sudah harus mereview kembali apa pencapaian yang telah saya lakukan dibeberapa tonggak milestone yang lalu

 
Dalam tradisi keluarga kami, memperingati peristiwa ulang tahun nyaris tak pernah dilakukan. Itupun jika tanggal ultah dari salah satu anggota keluarga sempat teringat, maka kami pun tak lupa berdoa dan memberi ucapan selamat serta tak lupa menitipkan doa doa pengharapan seperti hal nya yang lain. Nyaris tak ada yang special.

Menurutku, kenangan itu seperti ibarat buku cerita dan tak akan pernah selesai sampai kita harus menamatkannya di akhir usia. Masing masing orang tentu punya cara tersendiri untuk merefleksikan bentuk kenangan kehidupannya menurut caranya sendiri.  Hingga kadang dari mereka akhirnya 'terperangkap' dalam kenangan kenangan yang membuat mereka jadi sentimentil hingga menghasilkan sebuah karya yang indah seperti novel atau lagu misalnya atau hanya sekedar jadi dongeng pengantar tidur bagi anak cucu kelak. 

Milestone 0-6
Tak banyak yang bisa di ingat pada masa ini. Tumbuh sebagai anak bungsu, mempunyai dua kakak perempuan dan seorang kakak lelaki membuat saya merasa menjadi 'raja kecil' dalam hal perlindungan dalam keluarga. Raja kecil yang tetap tak mendapatkan perlakuan khusus karena pada saat itu, kedua orang tua kami hanya PNS biasa yang berprofesi sebagai guru SD Negeri yang tidak seperti sekarang,  belum ada gaji sertifikasi dan tunjangan hingga hanya mengandalkan gaji pokok yang bisa dibilang jauh dari cukup untuk menghidupi keluarga nya . Hingga akhirnya  mungkin itu juga yang membentuk kami hingga sekarang ini  untuk menjadi terbiasa menghargai  lembaran rupiah sesuai dengan peruntukan alokasinya.

Milestone 9 - Jaman Baheula
Adanya kesalahan penulisan tanggal kelahiran yang dimajukan sehari pada ijazah SD  ( di Ijazah tertera tgl 26, harusnya 27) membuat semua penulisan tanggal ijazah setelahnya mau tidak mau mengikut ke ijazah awal. Ohiya,  pernah juga pada masa itu,  kami sekeluarga menghadiri  perhelatan hajatan keluarga dikampung disaat banjir datang dan melanda rumah kami mengakibatkan banyak arsip foto kenangan kecil yang tak sempat terselamatkan...ahhhh

Milestone 15-21 - Darah Muda, darahnya para Remadja
Beberapa lompatan kecil dan merasa banyak perubahan dari sisi mood, emosi, minat dan hobby  serta pemikiran yang kadang terinspirasi dari tokoh yang dianggap hebat pada saat itu tapi  syukurlah tak sampai out of control dan kehilangan jati diri remaja harapan bangsa :)

Milestone 22:  Jadi kutu loncat
Selepas kuliah, keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak sangat menggebu. di masa usia dua puluhan itu,terhitung ada sekitar lima - enam kali keluar masuk kerja.  Sempat mengalami peristiwa penodongan diatas pete pete (nama kendaraan umum mks) saat pulang siaran malam membuat saya bertekad untuk mencari zona aman sendiri, harus segera mempunyai kendaraan bagaimana pun caranya. Dan setelah peristiwa itu,  untuk kali pertamanya, pencapaian pertama saya dalam hal financial adalah dapat membeli kendaraan roda dua murahan dari hasil keringat sendiri. :p

Milestone 27:  Galau Akut
Krisis paruh baya melanda, saat ditempatkan disebuah daerah kabupaten, saya merasa berada dipenjara suci. beberapa kegiatan tak dapat saya lakukan lagi. Yang ada hanyalah bekerja,  mencari makan diluaran, rumah kost dan kantor serta akhir pulang mudik ke kota kelahiran sekedar bersua dengan keluarga di Makassar.

Saat itu yang ada hanyalah bekerja dan menghabiskan waktu dengan membaca, menulis atau sekedar duduk duduk di dermaga pelabuhan diwaktu malam.  Kualitas hidup dan diri terasa merosot drastis. Dengan kondisi jaringan internet yang terbatas saat itu, sendiri seperti itu, kadang saya merasa jauh dari rumah dan menjadi jauh serta 'marah' kepada Tuhan. Yeahh, saya tak enjoy dengan suasana seperti itu disaat merasa bahwa di etape usia seperti itu adalah masa untuk memperbanyak lumbung lumbung komunitas dan jaringan sosialisasi, mencari calon pasangan hidup dan memperbanyak pengalaman. Tidak vakum dan statis dalam hening malam di dusun sunyi.

Milestone 29:  Mengunjungi Rumah Tuhan
Entahlah apa yang mendasari saat itu hingga tiba tiba terbersit untuk dapat berkunjung ke Baitullah. Kabar orang tua yang pada saat itu hampir setiap saat harus berbaring dirumah sakit, beberapa persoalan kompleks dan keinginan ini itu yang tak kunjung terwujud membuat saya membulatkan tekad untuk melakukan ibadah Umrah. 

Inilah pencapaian terbesar hidup yang saya rasakan. Dapat mengadu secara langsung depan Rumah Tuhan - kabah, syiar ke makam nabi, mengunjungi tempat bersejarah umat islam serta bermunajat di jabal rahmah, menumpahkan segala keluh kesah serta berdoa agar kiranya selalu diberi kesehatan, dapat segera diberi pasangan hidup,  serta harapan agar orangtua kami kiranya dapat juga menyempurnakan rukun islam, mengunjungi rumah tuhan ini untuk melaksanakan ibadah haji dalam kondisinya yang sakit dan renta.

Milestone 32<
Beberapa waktu lalu, di suatu sore di kota air verona italia, saya sempat melihat sebuah pertunjukan musik minimalis. pertunjukan itu mungkin lebih tepat disebut sebagai musik pengiring seperti homeband kafe kafe pinggir jalan pada umumnya. Sang violis dengan apik memainkan sebuah lagu lama dari louis amstrong kalo tak salah berjudul ' what a wonderfull world'.

Lagu itu cukup akrab ditelinga. Lagu itu setidaknya menggambarkan tentang keindahan alam, pohon hijau, mawar merah, langit biru dan keramahan wajah orang orang serta warna warni pelangi yang sepertinya ingin menyampaikan pesan kedamaian serta kehidupan yang indah.

Tuhan memang selalu punya rencana. Syukurlah beberapa resolusi telah tercapai dengan baik. Kondisi kesehatan orang tua kami sudah berangsur lebih sehat, dan akhirnya dapat juga memperoleh kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun 2011 (batal di 2010) lalu meski sempat terjadi pembatalan qouta jamaah dan harus diberangkatkan di tahun berikutnya. aturan regulasi haji di Indonesia memang masih semrawut dan secara pribadi saya mengganggap bahwa hanya di Indonesia inilah, banyak permasalahan yang sebenarnya mudah jika dilakukan dengan baik dan benar, tanpa ada kepentingan disana.

Di anak tangga Milestone ini juga, saya akhirnya menempuh hidup baru dengan gadis pilihan tepat tiga hari setelah hari ulang tahun ke 32. Kami saling berkenalan dan sepakat untuk membina rumah tangga meskipun berpisah jarak, yang satu di pulau Jawa dan saya sendiri di Sulawesi.

Di usia 33 ini,  saya harus mencoret beberapa resolusi yang sebahagian lagi masih menjadi pe er yang harus segera dituntaskan. Dari lima resolusi tahun lalu;  menikah, punya anak, memiliki rumah layak, mobil VW Beattle impian, mengunjungi benua Eropa meskipun baru segelintir kecil, melanjutkan pendidikan di jenjang S2 dan berkantor di Makassar setidaknya sudah terjawab sebahagian. Aku selalu yakin, Tuhan sudah mengatur dan berencana terbaik untuk tiap tiap manusia dalam  menjalani garis hidupnya selama manusia itu selalu berusaha dan berikhtiar dengan sungguh sungguh.  Entah akan berujung di Milestone berapa, yang pasti adalah semoga perjalanan ini berakhir dengan pencapaian resolusi yang paripurna. Amin

Usia 33?...... masih muda !!!

0 komentar: