Resensi Buku - Surat Dahlan

Senin, Maret 18, 2013 di Senin, Maret 18, 2013


No : 303
Judul : Surat Dahlan

Penulis : Khrisna Pabichara

Penerbit : Noura Books

Cetakan : I, Januari 2013

Tebal : 396 hlm

Surat Dahlan  merupakan sekuel dari Sepatu Dahlan yang merupakan novelisasi kehidupan Dahlan Iskan (meneg BUMN) yang hingga saat namanya mulai diperhitungkan untuk masuk dalam bursa calon Presiden 2014. Data Poiticawave bahkan menyatakan bahwa, posisi Dahlan mampu mengungguli kandidat capres lain. Seperti Mahfud MD, Chairul Tanjung, Jusuf Kalla, Prabowo, Aburizal Bakrie, Hatta Rajasa, Wiranto dan Gita Wiryawan.




Semenjak namanya semakin dikenal publik setelah menjadi direktur PLN dan Menteri BUMN banyak sudah buku-buku tentangnya ditulis dari berbagai sudut pandang dan penggalan peristiwa yang dialami Dahlan Iskan. Diantara puluhan buku-buku tentangnya yang mencuri perhatian publik adalah novelisasi kehidupan Dahlan Iskan karya Khrisna Pabichara yang mencoba menovelkan sejarah kehidupan Dahlan Iskan semenjak kecil hingga sekarang yang terbagi kedalam 3 buah novel berseri (Sepatu Dahlan, Surat Dahlan, dan Senyum Dahlan)

Jika Sepatu Dahlan mengisahkan kehidupan Dahlan Iskan kecil hingga SMA, maka di Surat Dahlan kita akan membaca bagaimana Dahlan Iskan mencari jati dirinya, kisah cintanya, dan masa-masa kuliahnya di Samarinda hingga menjadi wartawan dan dipercaya mengelola koran Jawa Pos di Surabaya.

Sama seperti dalam novel Sepatu Dahlan, dalam novel keduanya ini penulis membuka kisahnya dengan prolog saat Dahlan Iskan berjuang mempertahankan hidupnya saat akan dan setelah melakukan operasi transplatasi hati di Tianjin First Center Hospital, China pada tahun 2007 yang lalu. Jika dalam Sepatu Dahlan kisah dibuka saat  ia akan dioperasi maka di novel keduanya ini prolognya dibuka saat Dahlan Iskan baru saja menjalani operasi.

Saat-saat antara sadar dan tidak sadar itulah ingatan Dahlan Iskan kembali ke masa lampau saat dirinya menjalani masa-masa kuliah di Samarinda. Bisa dikatakan masa-masa itu adalah masa galau bagi kehidupan mudanya. Selain galau dengan kisah cintanya, Dahlan juga galau akan kuliah dan masa depannya. Ia mulai jenuh dengan kuliahnya karena teori-teori kehidupan yang dijejalkan ke kepalanya sering amat berjauhan dengan kenyataan hidup, belum lagi ditambah dengan sikap salah satu dosennya yang otoriter sehingga ia sampai pada suatu titik untuk menentukan apakah ia akan menuntaskan kuliahnya atau berhenti kuliah dan bekerja.

Alih-alih mengikuti kuliah, Dahlan lebih senang bergabung dengan kawan-kawannya di sebuah organisasi kemahasiswaan Persatuan Islam Indonesia (PII). Bagi Dahlan kegiatan di PII terasa lebih dinamis dibanding kuliahnya yang biasa-biasa saja. Akhirnya Dahlan memutuskan berhenti kuliah dan memilih aktif dalam berbagai kegiatan yang diadakan PII. Hal ini kelak akan menyeretnya pada Peristiwa Malapetaka Lima Januari (Malari). Bersama teman-temannya Dahlan melakukan demonstrasi di berbagai lokasi di Samarinda. Ketika situasi semakin memanas dan pemerintah semakin represif, Dahlan dan kawan-kawannya dituduh hendak melakukan makar dan merekapun menjadi buronan pemerintah.

Setelah melalui masa-masa sulit dalam pelariannya dan  ketika situasi nasional kembali normal, Dahlan akhirnya menemukan cintanya. Cinta pada seorang wanita yang kelak akan menjadi istrinya dan cintanya pada dunia baru yang menjadi awal perjuangannya mencapai kesuksesan, yaitu dunia surat kabar.

Seperti novel Sepatu Dahlan, novel inipun  mencoba menginspirasi pembacanya melalui kehidupan masa muda Dahlan Iskan. Dengan menarik penulis merangkai kisah masa muda Dahlan baik itu romatika kisah cintanya dengan tiga wanita, hiruk pikuk dan menegangkannya demonstrasi mahasiswa di tahun 70-an hingga bagaimana Dahlan meniti karirnya mulai dari menjadi wartawan sebuah koran lokal di Samarinda hingga akhirnya dipercaya mengelola sebuah koran besar di Surabaya yang saat itu nyaris bangkrut dan ditinggalkan pembacanya.

 Dahlan Iskan dan Krisna Pabichara 
(penulis Trologi Novel Dahlan Iskan)



Jika dibandingkan dengan sepatu Dahlan, novel ini sepertinya kalah menggugah dibanding Sepatu Dahlan. Kesulitan hidup yang dialami Dahlan kecil lebih isnpriratif dan menggugah dibanding novel sekuelnya ini. Peristiwa demo dan masa-masa pelarian Dahlan dan kawan-kawannya dari kejaran aparat adalah bagian yang menarik sayangnya ketika situasi sudah aman dan Dahlan bisa kembali ke rumah kakaknya penulis tidak mengisahkan lebih lanjut bagaimana trauma atau dampak psikologis Dahlan dan teman-temannya sebagai mantan pelarian yang dituduh akan melakukan makar,  semua berlalu begitu saja padahal kalau bagian ini dieksplorasi lebih dalam lagi tentunya novel ini akan semakin menarik.

Selain itu bagian yang juga menarik adalah ketika Dahlan meniti karir sebagai wartawan. Lewat pengalaman Dahlan kita akan melihat bahwa mencari berita agar bisa dimuat tidaklah mudah, walau saat itu Dahlan adalah kontributor resmi sebuah media namun itu semua tidak menjamin bahwa apa yang ditulisnya akan dimua  karena selain harus bersaing dengan kontributor lainnya semua berita yang masuk akan diseleksi oleh redaktur senior. 

Di bagian ini juga kita akan mengetahui rintisan karir Dahlan yang tadinya hanya seorang wartawan di harian lokal kecil akhirnya bergabung dengan majalah Tempo. Juga akan terungkap bahwa ketika Dahlan telah bekerja di majalah Tempo, Tempo membeli Jawa Pos yang saat itu sudah hampir bangkrut. Menarik karena mungkin banyak dari kita yang tidak mengetahui bagaimana proses pengambilalihan manajemen Jawa Pos ke Majalah Tempo dan  peran Dahlan dalam proses tersebut.

Dari segi pengisahan seperti novel sebelumnya, novel ini ditulis dengan kalimat sederhana, enak dibaca tanpa mengurangi keindahan sastrawinya sehingga novel ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Ending dari novel ini cukup menggugah dimana  terjadi reuni kecil antara keluarga Dahlan dan ayahnya lengkap dengan nasihat-nasehat bijak dan isnpiratif dari sang ayah yang bersahaja.

Sebagai sebuah novelisasi kehidupan Dahlan Iskan tampaknya  novel ini bisa mewakili latar belakang apa yang  membuat Dahlan Iskan menjadi seperti sekarang. Kisah kehdiupan Dahlan belum berakhir di novel ini karena masih ada satu judul lagi yang tersisa yaitu "Senyum Dahlan" dimana akan mengisahkan kehidupan Dahlan setelah dipercaya mengelola dan  menjadi orang nomor satu harian Jawa Pos hingga menjadi menteri.  

Akankah Surat Dahlan dan Senyum Dahlan diapresiasi oleh pembacanya dengan baik seperti Novel Sepatu Dahlan (Juni 2012)  yang diberi label mega best seller karena telah terjual lebih dari 100.000 buku dan hingga saat ini sudah mencapai 8 kali cetakan?

 Kita lihat saja, namun bukan angka penjualan yang utama melainkan apakah novel ini mampu menginspirasi pembacanya? Tentunya harapan kita sama seperti yang dikatakan Dahlan Iskan saat menghadiri peluncuran buku ini beberapa waktu yang lalu,

"Semoga (novel ini) bisa menularkan semangat-semangat positif khususnya bagi generasi-generasi muda yang akan melanjutakan kehidupan bangsa ini"  ~ Dahlan Iskan / Buku yg Kubaca

0 komentar: