Wajahnya tak seelok Kupu Kupu

Sabtu, Februari 23, 2013 di Sabtu, Februari 23, 2013

Desa Parang Tinggia -Kab. Maros
Sambil menunjuk rerimbunan pohon Jatia, Daeng Ngesa mengatakan, nantilah saat menjelang magrib tiba, barulah terdengar suara berirama khas ratusan kepak yang berhamburan keluar. Menawarkan pemandangan langit yang cukup memukau. Beberapa diantaranya terbang melewati jendela samping rumah panggung.

Melewati Jembatan Batu Bassi, Aspal desa mengantarkan untuk sampai ke desa Parang Tinggia, kelurahan Jenetaesa, Kec Simbang Kabupaten Maros. Sehabis hujan tadi, debu berganti aroma tanah dan suasana desa. Orang disekitarnya lebih mengenal daerah itu dengan sebutan batu bassi atau (Batu Besi). Pangkalan Ojek yang kebetulan mangkal di tepi jembatan tentunya akan sumrigah jika anda menawarinya untuk di antar masuk sampai ke ujung desa.

Dibanding pesona Air Terjun Bantimurung dan Kingdom of Butterfly-nya, kawasan Batu Bassie berkesan masih jauh dari popularitas. Sayangnya, orang orang lebih tertarik untuk mengunjungi Bantimurung yang fenomenal sebagai ikon kota. Atau entah karena lokasi yang sedikit menjorok ke dalam hingga masih sedikit yang mengetahui keberadaan koloni kalelawar ataukah bisa jadi promosi wisata yang kurang mendengung bahkan nyaris belum tersentuh.

Dari paladang (beranda) rumah panggung Dg Ngesa, suasana cukup santai dengan suguhan kue ala kadarnya. Lewat penuturannya, ia pun bercerita mengenai sosok Qamaruddin dewata, lelaki yang membawa lima ekor kalelawar untuk dipelihara dirumahnya. Beliau sendiri kurang mengetahui persis alasan mengapa sampai Ayahnya berniat untuk memelihara kalelewar. Awalnya “tikus bersayap” itu hanya di taruh di pohon depan rumahnya. Hingga kini, koloni tersebut telah mendiami lingkungan rumahnya hingga belasan tahun dan diperkirakan populasinya telah mencapai ratusan ekor. Mereka hidup berkelompok di beberapa pohon perdu dan bambu yang berada di kebun sekitar rumah bahkan sampai di pucuk pohon tetangga di depan rumah.

Daeng Ngesa menambahkan, penduduk desanya sudah terbiasa dengan kehadiran mahluk penghisap darah itu. Mereka tidak pernah merasa terganggu apalagi mempermasalahkan suara cicitan kalelawar yang datang dan pergi kala senja berganti. Malah secara kontinyu, daeng ngesa mengaku terbantu untuk dapat bangun lebih awal, melaksanakan kewajiban sholat Shubuh karena suara bising dari puluhan kalelawar yang kembali idur bergelantungan di sarangnya. Sepertinya penduduk desa tidak berharap banyak dengan kehadiran koloni hewan ini. Jika kebetulan ada orang luar yang tak sengaja lewat atau berkunjung ke tempat itu untuk melihat kalelawar, mereka dengan senang hati hanya membiarkan para pengunjung untuk mempersilahkan mengambil foto atau sekedar mengamati tanpa wajib merogoh kocek sebagai biaya retribusi. 

Mari berwisata ke Kab. Maros :)

0 komentar: