Mengenang Kifle;

Minggu, Februari 17, 2013 di Minggu, Februari 17, 2013

Tulisan ini untuk mengenang rekan sebangku di SMP yang telah mendahului kami dan sempat dimuat dalam bentuk cerpen di Harian Fajar, Edisi Minggu, 17 February 2013 kolom Budaya, Hal 26 .

Ceritanya fiksi dgn pendekatan muatan lokal. Pemilihan nama dan setting tempat bukan sebenarnya. Menurutku sieh ceritanya malah lebih ke genre horor :)



 DOTI
“ Ma’, Aku melihat bola api itu lagi, !!

Mamak menengadahkan kepala, mendongak kearah atap seng rumah milik Haji Pore, tetangganya. “apa sede lagi kau lihat” sahut daeng Rannu sambil menarik lengan anaknya,  setelah sebelumnya mengunci rapat jendela rumah..

Senja turun. Kumandang azan magrib sudah lewat dari tadi. Temaram menyelimuti hingga menutupi paladang (beranda) rumah panggung milik keluarga Tata Sarro.  Sejak kejadian dua tahun silam, daeng Rannu masih terkenang mendiang anaknya. Setiap duduk di beranda rumah dan kebetulan saya lewat di depannya, beliau pastia menyelipkan cerita mendiang anaknya. Terkadang di setiap penggalan ceritanya, saya melihat kedua bola matanya masih sering berkaca kaca. Gurat  kesedihan masih mendalam disana.

Emak Rannu sesekali menyeka air matanya yang meleleh. Jika melihat anak sebaya, ia masih terbayang almarhum Sampara. Ingatan akan keranda yang diusung juga serasa masih jelas di pelupuk mata.  Kepergian anaknya dianggap begitu cepat. Di usia yang masih muda sesaat jelang ujian sidang skripsinya, Sampara telah menghembuskan nafas, meninggalkan dunia fana dengan riwayat penyakit yang sampai sekarang belum jelas diketahui.

Dimata rekan sepermainannya, Sampara dikenal cukup ramah, terkadang rumahnya yang tak jauh dari sekolah malah sering ditempati sebagai tempat penitipan sepeda oleh beberapa teman sekelasnya. Hingga akhirnya selepas SMP, kami pun memilih jalan masing masing. Sampara memutuskan untuk masuk di STM dan saya memilih  salah satu Sekolah Menengah Umum Negeri di Makassar. Sejak  itulah, komunikasi kami menjadi berkurang.

Delapan tahun sepertinya begitu cepat. Saya kembali bertemu dengan Sampara di suatu acara pernikahan seorang teman sekolahan. Katanya, selama beberapa waktu terakhir, Ia sempat juga bekerja di salah satu perusahaan swasta di Kalimantan, dan sekarang tengah melanjutkan kembali kuliah Teknik jalur Ekstensi yang sempat tertunda di sebuah Perguruan Negeri di Makassar. Kami pun lama bertukar cerita sampai akhirnya sepakat untuk bertemu di rumah esok harinya.

Sampara bercerita bahwa beberapa hari terakhir ini ia sering melihat beberapa percik merah menyerupai bola api panjang melintas di samping rumahnya. Warnanya begitu indah, seperti binatang malam yang baru keluar dari sarangnya dan terbang melintas menuju alam bebas. Bola api itu bergerak secara beriringan. Menurut Mamaknya, konon ada beberapa kepercayaan orang dahulu, itu bisa jadi sebuah tanda alam dimulainya pergantian hari menuju malam. Malah sebahagian cerita orang bugis yang tinggal di beberapa tempat tertentu mengatakan, hal seperti itu bisa juga sebagai pertanda adanya semacam Ilmu hitam, Tula atau guna guna/ jampi yang sengaja dikirimkan orang tertentu ke pada orang yang dimaksud.

Benar tidaknya cerita tentang bola bola api, entah sebagai isapan jempol atau cerita kepercayaan orang orang tua terdahulu, yang jelas kami tidak lagi mempersoalkannya. Sampara pun minta ijin pulang. Saya sempat menahannya berhubung gerimis mulai turun. Saat itu ia berlari kecil pulang karena tidak membawa mantel hujan. Ternyata itulah kali terakhir kebersamaan saya dengannya. Kurang lebih dua minggu berselang, saya mendapat kabar dari seorang kawan bahwa Sampara sudah menghembuskan nafas terakhir di sebuah rumah sakit  di dekat pantai Losari.

Rupanya tiga hari sebelum meninggal, Sampara menderita batuk berkepanjangan. Menurut Mamaknya, awalnya ia hanya mengeluhkan sakit pada perutnya. Keesokan harinya batuk tak kunjung sembuh, oleh dokter, Sampara disarankan untuk istirahat dan tetapi keesokan hari ia semakin tersiksa dengan batuknya. Lehernya mulai menggembung. Obat menjadi sulit tertelan dan hanya memuntahkan makanan. Semakin khawatir dengan kondisi anak lelakinya, akhirnya diputuskan untuk rawat inap. Hasil diagnosa sementara, katanya Sampara mengalami radang paru-paru. Tetapi orang tuanya mengatakan bahwa seumur umur, Sampara bukanlah pecandu rokok apalagi mempunyai riwayat penyakit serius seperti radang paru-paru. Keluarganya pun panik. Dalam kurun waktu tiga hari kondisi Sampara semakin mengkhawatirkan..

Di malam sebelum berpulang, Sampara sempat berbisik kepada emaknya. Bercerita tentang mimpinya semalam. Di dalam tidurnya ia dibawa oleh seorang yang tidak dikenalnya ke dalam suatu tempat yang gelap. Di dalam ruangan itu, perempuan yang berjalan didepan Sampara itu tiba tiba berbarlik dan melempari  sampara dengan ikan busuk hingga mengenai dadanya. Begitu terbangun dari tidurnya, ia pun merasakan sakit di bahagian ulu hati dan dada yang luar biasa. Karena semakin sulit bicara, ia hanya memberi isyarat kepada mamaknya untuk mendekat dan membisikan niatnya untuk menyikat gigi. Katanya ia merasa gerah beberapa hari terakhir tidak mandi dan menggosok gigi.
***
“Jadi kapan ki tau kalau Sampara sudah meninggal?. Tanyaku. Emak hanya diam dan akhirnya saya memutuskan untuk  tidak melanjutkan pertanyaan lagi. Bangkit dan minta izin untuk pamit pulang mengingat hari juga sudah berangsur sore. “Sesekali singgah ko di sini nak,” sampaikan salamku untuk orang tuamu”.  ujar daeng Rannu sambil mengantarku sampai depan pintu pagarnya.

Hari ini  sudah tepat tujuh tahun hari kepergian Sampara. Tanpa sengaja  saya kembali melintasi jalan sekolahan dahulu. Sejenak melayangkan pandang keluar jendela Makasar. Sore yang sepi. Melintasi jembatan menuju arah luar kota, teman saya berbisik sepertinya ia melihat rona merah di bebaris pucuk pohon berbias lembayung,. Warnanya indah sekali. Saya ikut melayangkan pandang melihat kearah yang dimaksud. Tiba tiba perasaan gelisah meyelimuti. Warna itu brgerak memanjang membentuk  percik merah. Percik merah layaknya menyerupai bola api seperti cerita Sampara dahulu.

Nb:
*doti-       Istilah familiar dalam bahasa Mandar/MksSejenis ilmu hitam yg biasa dikirimkan orang2 jahat

0 komentar: