Kelas EKONOMI

Selasa, Februari 19, 2013 di Selasa, Februari 19, 2013

(Foto dari Merdeka.Com)

Ada tulisan menarik dari Bapak Yusran Pare yang saya rujuk sepenuhnya. Isinya menggelitik dan cukup menyentil. Sepertinya tulisan ini adalah gambaran potret buram transportasi Indonesia kita. Dimana tak seperti di negara maju lainnya. Konotasi kelas Ekonomi dinegara kita memang masih  semrawut dan masih dipandang sebelah mata bagi kaum ‘The have’ yang senang akan kenyamanan, keamanan plus pencitraan J


Terkadang kemampuan financial kita membuat tak ada pilihan lain untuk memilih  ‘kelas Ekonomi’ Mau tak mau, ketakutan mengenai kerawanan atau kejahatan kejahatan lain yang sering terjadi di kelas ekonomi seperti yang tergambar di berita TV selama ini  tak lagi di indahkan asal bisa sampai ketujuan dengan cepat.

Entah siapa yang memulai menggunakan ‘Ekonomi’ sebagai istilah untuk ke­las paling rendah dalam tingkatan layanan bagi publik. Tak per­caya? Silakan gunakan jasa angkutan umum di darat dan laut.


Duduk di kelas ekonomi rasanya hampir sama dengan kedudukan seekor kam­bing. Apalagi di saat-saat musim libur seperti men­je­lang lebaran dan Tahun baru. Tak percaya?


Pada moda angkutan tersebut, penghuni ke­las ini ham­pir dise­tarakan dengan barang, tanpa jiwa tak bere­mosi. Mari tengok dan rasakan ‘ekonomi’ di kapal-kapal motor yang mem­belah laut menjembatani pu­­­lau-pulau lain di bentangan zamrud khatulistiwa.


Atau, cobalah sesekali naik ke­reta ‘Ekonomi’ dari Jakarta ke Surabaya atau ke mana sajalah jurusannya. Di sinilah sesungguhnya kita merasakan arti “kebersamaan dalam kesengsaraan” sebuah negeri mak­mur dari barat hingga ke timur.


Di kelas ‘ekonomi’ ini pula kita bersama-sama berpeluh, ber­desak, berebut ruang untuk sekadar bernapas, sambil menyak­sikan da­ri balik jendela berkarat, bertapa biru dan luasnya laut. Be­tapa hijau dan permainya ladang, sawah, kebun dan gunung di kiri­-kanan jendela –tanpa kaca– kereta.


Di kelas ‘ekonomi’ pula, kita akan merasakan bagaimana seng­saranya kebersamaan dalam kelaparan dan kehausan terpanggang suhu tanpa berpengatur, antre mendapatkan sepiring nasi dan sepotong ikan entah apa, sementara di bawah kita di kedalaman samudera berjuta-juta ikan menanti dikelola.

Orang bilang, pembagian kelas dalam hal pelayanan kenyamanan adalah sah-sah dan wajar saja. Orang berhak memilih mau dilayani secara mewah, atau secara alakadarnya, terserah, sebab masing-ma­sing memberi konsekuensi sendiri-sendiri.


Namun dalam hal kea­man­­an, tidak ada tawar menawar. Kelas Ve­ry Very Important Person  (V­VIP), kelas Very Impor­tant Person (VI­P), kelas eksekutif, kelas bin­sis, kelas ekonomi, semua berhak mem­peroleh layanan dan ja­minan keamanan yang sama.


Soalnya, musi­bah dan kecelakaan tak mengenal kelas. Ketika Boeing 737 menabrak gedung kembar WTC di New York, penumpang di kelas eko­nomi sama sialnya dengan kelas eksekutif atau bisnis.Begitu pula ketika Garuda terbakar saat mendarat di Yogya tempo hari, atau ketika Adam Air nyemplung ke perairan Majene -Sulawesi Barat. Ketika Kapal Motor Egon kandas di perairan Barito beberapa waktu lalu pun penumpang kelas geladak sama sialnya dengan pe­num­pang kelas I, meski kenyamanan mereka berbeda. Ketika Tampomas II terbakar dan karam di perairan Masalembo, maut tak memilih-milih penumpang kelas mana dahulu yang akan “diambil”.


Tapi ba­gaimana kita bisa mengharap jaminan ke­amanan yang utama jika la­­yanan kenyamanan saja belum kita dapat­kan sesuai dengan ‘kelas’ yang kita ambil? Jika penumpang berstatus ek­se­kutif saja bisa me­nik­mati layanan ketaknyamanan yang sungguh tak selaras dengan ke­las yang didudukinya, apalagi penumpang ke­las “ekonomi.”


Selain mendapat layanan kenyamanan yang sama dengan kambing atau ikan sarden, perlin­dung­an keamanan dan keselamatannya pun sangat alakadarnya. Bahkan ka­dang nyaris tanpa perlindungan sama sekali.


Di pesawat terbang ko­­mersial mungkin kita akan mendapatkannya, tapi hampir pasti tak akan kita peroleh pada moda angkutan darat dan laut. Jika dalam pengelolaan hal angkutan udara kita bisa mengikuti atau mendekati layanan kenyamanan dan keamanan stan­dar seperti yang diberlakukan secara umum di dunia, mengapa pada angkutan darat dan laut tidak?


Boleh jadi, itu sebabnya warga kita cenderung berlomba me­miliki dan menggunakan kendaraan pribadi. Di samping penting un­tuk melengkapi simbol status –agar tidak di kelas “ekonomi” te­rus– juga karena angkutan darat tidak menjanjikan keamanan.


Ada baiknya para wakil rakyat dan para pejabat kita  se­sekali juga bergaya blusukan. Bukan hanya merasakan kelas ekonomi saat musim kampanye saja. Duduk berdampingan bersama rakyatnya di kelas “ekonomi”. Apakah di ka­pal, di kereta Api, atau di bus umum tanpa mengenakan seragam dan atribut mereka. Agar lebih dekat dan merasakan langsung ' romantisme' Kelas Ekonomi .

0 komentar: