Jalan Jalan Ke Monumen Nasional Jakarta

Kamis, Februari 14, 2013 di Kamis, Februari 14, 2013

Ini adalah postingan pertama di Tahun Ular 2013.

Kangen juga untuk kembali menulis. Beberapa peristiwa sampai akhir tahun 2012 tak sempat saya bagikan. Blog ini mungkin sudah berisi separuh sarang laba laba karena lama tak di isi :). Oh ya, jadi begini, hari Minggu, tepatnya Tgl 14 Januari 2013 atau tepat sebulan lalu, saya bersama istri berkunjung ke Monumen Nasional Lubang Buaya di bilangan Jakarta Timur. Sebenarnya kunjungan ini tidak direncanakan sama sekali hanya sekedar wasting time dan mengingat lokasinya tak jauh dari rumah Eyang yang sedang kami kunjungi dan jadi tempat kami menginap saat itu. 

Ini adalah kali kedua saya mengunjungi tempat ini sejak tahun 2000 silam. Istri saya yang berdomisili di Jakarta sendiri malah mengaku ini juga baru berkesempatan untuk berkunjung ke Museum PKI lubang Buaya.

Sejatinya postingan ini mungkin lebih tepat di tulis saat bulan September nantinya. Berhubung lagi ada mood untuk menulis dan mengingat hari ini adalah hari kasih sayang (lho?), jadi bentuk kasih sayangnya adalah lebih ke cinta istri dan tanah air saja.

Jalan jalan ke monumen pancasila sakti ini ibarat napak tilas kenangan sewaktu masih duduk dibangku sekolah dasar.Dahulu, setiap peringatan 30 september, guru sekolah kami biasanya  membawa serta muridnya di gedung bioskop yang memutar film ini dengan mencarter kendaraan umum / pete pete. Kalau tidak salah gedung bioskop itu adalah Bioskop Dewi di bilangan jalan Bulusaraung yang sekarang sudah tidak ada. Jika telah usai keluar dari gedung bioskop,ada ada saja cerita yang kami bawa sebagai oleh oleh untuk diceritakan kepada teman sekolah atau rumah yang tidak sempat ikut bersama kami.



Kini saya bersama istri telah berada dipintu gerbang masuk monumen.Setelah menumpangi angkot jurusan pondok gede dari arah pangkalan jati, kami bertiga ditemani oleh seorang tante akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki saja tanpa menumpang ojek yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari pintu gerbang. Siang itu ojek tampak sepi. Suasana rindang langsung terasa oleh sejuknya pohon yang berjejer rapi sepanjang jalan masuk. Ini nampak berbeda dengan beberapa waktu lalu dimana jalanan belum selebar sekarang.

Setelah membeli tiket masuk senilai Rp.2000,-/orang, kami pun berbaur dengan pengunjung lain serta rombongan pelajar yang juga nampak baru datang. Tujuan pertama kali adalah melihat diaroma rumah penyiksaan, serta sumur maut lubang buaya.

Puas melihat serta sesekali mengambil gambar, kami pun beranjak menuju museum PKI, serta ruangan darah yang letaknya tak jauh dari lokasi Rumah, Sumur dan monumen Pancasila Sakti dimana terdapat foto dan baju terakhir peninggalan para jenderal yang ditemukan di jenazah terakhir kalinya saat diangkat dari Sumur.

Hal yang paling berkesan adalah dengan liburan sederhana kami kali ini, banyak pesan dan kesan penting yang kami dapatkan yang tentunya semakin menambah kecintaan dan kebanggaan kami terhadap pengorbanan para pahlawan yang telah gugur akibat kekejaman dari penghianatan kaum komunis dinegeri saat itu.

G30 S/PKI yang diperingati pada tanggal 30 September adalah sebuah kerakan dari para anggota PKI (Partai Komunis Indonesia) untuk menculik dan membuang para Jendral Indonesia ke sumur Lubang Buaya. Kabarnya, PKI berniat untuk mengubah unsur Pancasila menjadi ideologi komunis. Nah, siapa sajakah Jendral yang menjadi korban keberingasan PKI??
1. Jenderal TNI Anumerta, Ahmad Yani

Selalu berseberangan dengan PKI, membuat Ahmad Yani menjadi salah satu target utama dari PKI. Tak hanya itu, Ia juga menolak PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri dari buruh dan tani. Ia pun kemudian ditembak di ruang makan rumahnya,di jalan Lembang D58, Menteng pada jam 04.35 tanggal 1 Oktober 1965. Mayatnya kemudian ditemukan di Lubang Buaya.
2. Mayor Jenderal TNI Anumerta, Donald Isaac Panjaitan

Ketika menjabat sebagai Asisten IV Men/Pangad, Panjaitan berhasil membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Cina (RRC) untuk PKI. Dari situ diketahui bahwa senjata-senjata ilegal tersebut dimasukkan ke dalam peti-peti bahan bangunan yang akan dipakai dalam pembangunan gedung Conefo (Conference of the New Emerging Forces). Senjata-senjata itu diperlukan PKI yang sedang giatnya mengadakan persiapan melancarkan pemberontakan.
3. Letnan Jenderal TNI Anumerta, Mas Tirtodarmo Harjono

Sama seperti Ahmad Yani dan jendral-jendral lain, M.T Haryono tidak menyetujui ide PKI untuk mempersenjatai kaum buruh dan tani, atau pembentukkan Angkatan Kelima. Sebagian besar perwira AD termasuk M.T. Haryono mertimbangan adanya maksud tersembunyi di balik itu, yakni mengganti ideologi Pancasila menjadi komunis. Di samping itu, pembentukan Angkatan Kelima tersebut sangatlah memiliki resiko yang sangat tinggi. Namun karena penolakan itu pula, Ia dan para perwira lain dimusuhi dan menjadi target pembunuhan PKI dalam pemberontakan Gerakan 30 September 1965.
4. Kapten CZI Anumerta, Pierre Andreas Tendean

Beliau adalah ajudan dari Jenderal Besar DR. Abdul Harris Nasution (Menko Hankam/Kepala Staf ABRI) pada era Soekarno. Awalnya PKI mengincar A.H Nasution, namun mereka salah culik, dan menangkap ajudannya. Nasution pun selamat, tapi anaknya Ade Irma Nasution tewas tertembak. Sementara sang ajudan, Pierre Tendean ditangkap oleh segerombolan penculik dan dibunuh di Lubang Buaya.
5. Letnan Jenderal Anumerta, Siswondo Parman

Pria kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah ini merupakan perwira intelijen, sehingga Ia banyak tahu tentang kegiatan rahasia PKI. Karena itulah maka S. Parman termasuk salah satu diantara para perwira yang menolak rencana PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri dari buruh dan tani. Penolakan inilah yang membuatnya dimusuhi dan menjadi korban pembunuhan PKI.
6. Letnan Jenderal Anumerta Suprapto

R. Suprapto gugur sebagai Pahlawan Revolusi untuk mempertahankan Pancasila. Bersama enam perwira lainnya Ia dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata. Pangkatnya yang sebelumnya masih Mayor Jenderal kemudian dinaikkan satu tingkat menjadi Letnan Jenderal sebagai penghargaan atas jasa-jasanya. Sebelumnya, R. Suprapto juga pernah menjadi ajudan Panglima Besar Sudirman pada perang Ambarawa.
7. Mayjen TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo

Menjelang pemberontakan G30 S/PKI, pak Toyo mengalami beberapa hal yang dirasakan kurang enak, seperti udara yang panas walaupun ruang sudah ber AC, dan bahkan memerintahkan untuk membuat rencana peringatan Hari ABRI pada 5 Oktober secara cermat kepada Ajudannya. Firasatnya pun terbukti dialami oleh Brigjen TNI Sutoyo, yaitu tanggal 1 Oktober jam 04.00 dini hari, Ia diculik dan dibunuh oleh gerombolan G 30 S/PKI. Adapun gerombolan yang bertugas menculik Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo ini dipimpin oleh Serma Surono dari Men Cakrabirawa dengan kekuatan 1 (satu) peleton. Dengan todongan bayonet, mereka menanyakan kepada pembantu rumah untuk menyerahkan kunci pintu yang menuju kamar tengah. Setelah pintu dibuka oleh Brigjen TNI Sutoyo, maka pratu Suyadi dan Praka Sumardi masuk ke dalam rumah, mereka mengatakan bahwa Brigjen TNI Sutoyo dipanggil oleh Presiden. Kedua orang itu membawa Brigjen TNI Sutoyo ke luar rumah sampai pintu pekarangan dan kemudian diserahkan pada Serda Sudibyo. Dengan diapit oleh Serda Sudibyo dan Pratu Sumardi, Brigjen TNI Sutoyo berjalan keluar pekarangan meninggalkan tempat untuk selanjutnya dibawa menuju Lubang Buaya. Ia pun kemudian gugur dianiaya di luar batas-batas kemanusiaan oleh gerombolan PKI.  (wikipedia)


(Potongan Film Saat Penculikan di Rumah Para Jenderal Oleh Pasukan Cakrabirawa )

(Suasana saat pengangkatan jenazah dari sumur Lubang Buaya)

Meskipun film ini sudah di hentikan pada tahun 1998 karena dianggap sebagai film propaganda dan mengaburkan sejarah, tetapi setidaknya liburan 'studi tour' kecil kami kali ini telah menambah referensi kami mengenai sosok pahlawan revolusi negeri ini yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi memberantas paham komunis di negeri ini

info terkait bisa di intip di sini 

0 komentar: