Bahana Malam; with Koes Plus

Senin, November 12, 2012 di Senin, November 12, 2012


Di era tahun 1984-1990 an,  saya 'mengklaim diri' sebagai salah satu penonton setia TVRI. Masa dimana stasiun pertelevisian Indonesia belum dibanjiri oleh Channel tivi swasta. Sejak masa kanak kanak hingga jelang remaja,  setiap sore saya sudah duduk manis menunggu serial kartun atau acara favorit siaran musik dan film serta berita yang disajikan dari layar tabung segi empat ajaib itu. Mungkin karena pada saat itu, TV hanyalah satu satunya media hiburan bersama bagi keluarga kami saat sore hingga malam tiba.
Tersebutlah seorang Sastrawan, Dramawan, Wartawan dan Penulis dan terakhir juga adalah seorang aktor film kelahiran Kota Makassar (waktu itu masih bernama Ujung Pandang) bernama Yapi Panda Abdiel Tamboyang.  Rambutnya hampir seluruhnya  telah memutih. Sekilas wajahnya terlihat dingin. Saya pertama melihatnya saat menjadi lakon aktor dalam Roman sinetron TVRI  ‘Siti Nurbaya’ karya Novel Marah Rusli  yang dialih sinemakan lewat besutan tangan dingin sutradara Dedi Setiadi sekitar tahun 1990 an.
Meskipun hanya tampil sesaat, Yapi yang kala itu berlakon sebagai ayah dari Siti Nurbaya (Novia S Kolopaking), cukup menghidupkan lakon berkarakter. Hingga kira kira berselang dua belas tahun kemudian, saya kembali berkesempatan tuk menonton karya beliau di sebuah Bioskop Mks berjudul Ca Bau Kan ( Hanya sebuah dosa) yang di bintangi aktris cantik Lola Amaria.  Tapi  dalam insan perfilman, rupanya Yapi ini lebih  senang disebut dengan nama  panggilan yang lain. Benang merahnya adalah, seorang Yapi Panda ini ternyata lebih senang memakai nama Remi Sylado.
Nama yang cukup unik menurutku. Nama ini mungkin ada maknanya bagi pengertian dia. Tapi  menurutku nama ini sebenarnya sangat simple dan bisa jadi diartikan sebagai sebuah not musik yang hanya diputar balik. Do Re MI Fa SO LA SI Do- (Re Mi SI LA DO) – 23761 atau 23768 dalam bentuk angka. ** 
Itulah pengantarnya. Sampai sekarang saya tak pernah berniat mencari tau kenapa orang ini memakai nama seperti itu. Bisa jadi ini hanya sebuah kebetulan. Tanpa makna. Atau bisa juga ini adalah bentuk apresiasi kecintaannya terhadap dunia film dan music tentunya. Dan saya menganggap untuk saat ini belum terlalu penting  untuk lebih mencari tahu lagi sejauh mana mengenai referensi nama itu.
Melompat dari film ke musik masih dalam suasana era dulu, saya mau share sedikit tentang musik.   Musik yang kata orang bersifat universal.  Universal yg mungkin pengertiannya adalah dapat dinikmati oleh semua kalangan, ras dan umur.   Sebuah kebutuhan ragawi yang mampu mewakilkan perasaan setiap orang dalam segala bentuk suasana.
Sebelum lebih jauh, saya menegaskan bahwa bidang saya bukanlah musik.  Tak mengenyam kursus ataukah hal hal yang berbau sekolah musik. Tentunya ini juga merupakan disclaimer agar tak salah dalam memberikan pandang. Biarlah orang-orang musik yg lebih berkompoten dibidangnya  untuk nantinya lebih menyempurnakan.
Mungkin tepatnya jika saya lebih menspesifikan tentang pengalaman dalam menonton konser musik. Disetiap kita, tentulah masing masing mempunyai selera atau kesenangan akan suatu lagu dan Jenis music.  Seiring waktu, aliran2 musik berkembang sesuai jaman dan kebutuhan serta hasil cipta kreasi dari para penggiat  musik yang selalu resah dalam menghasilkan sebuah karya. Musik merupakan sarana untuk mengisi jiwa. sudah terangkum dalam bentuk lagu. Harmonisasi nada yang tersusun dalam rangkaian syair dan melodi.  Mengisi ruang hati yang sedang bahagia, nestapa, galau bahkan dapat member secercah inspirasi.  Dan saya berani bersumpah, mungkin tak ada seorang pun didunia ini yang tak suka mendengarkan musik. (tentunya yg sesuai dengan selera masing masing).
KOES PLUS - LUPAKAN JANGAN, DIBUANG SAYANG
Saya mau cerita sedikit tentang sebuah Band Legenda Indonesia, Nama band itu adalah KOES PLUS. Sebuah band lawas yang sebenarnya lebih bercorak ballad & Rock & Roll di Era tahun 70 an dan hingga kini masih eksis meskipun para personilnya pun kini telah berganti dengan generasi keluarga yg lebih muda dengan tetap mengusung karya abadi  sepanjang masa
 Awal perkenalan saya dengan lagu lagu koes plus sebenarnya sejak jaman SMP. Di lingkungan sekitar rumah kami dahulunya berdiri banyak berdiri beberapa stasiun radio amatiran berdaya jangkau rendah. Beberapa rekan sepermainan sering belajar menyiar kesana ala  penyiar radio professional.  Jika malam tiba, mereka berkumpul dan bermain  gitar, domino dan bernyanyi dipinggir jalan dengan memainkan lagu lagu campur aduk sesuai selera masing masing dan mood saat itu.
Namanya juga anak muda dengan kehidupan lorong.  Kadang pelariannya ke lebih bermain gitar dengan jreng jreng biasa. Sekedar mencari eksistensi diri dengan nongkrong dipinggir jalan (dekker),  mungkin menghitung orang lewat seraya bernyanyi menyuarakan isi hati mengisi waktu, mengasah hobby dan mencari perhatianJ.
Biasanya lagu lagu yg dinyanyikan lebih didominasi oleh lagu lagu yg bisa dikatakan lagu “wajib’ bagi para pengamen eh pemula yang baru belajar bermain gitar saat itu antara lain Iwan Fals, Slank, Frangky Sahilatua, Ebiet G Ade,  dan beberapa lagu pop remaja yang sedang trend saat itu. Nah, beberapa lagu yg dimainkan itu salah satunya adalah lagu koes plus yang pernah aku lihat di acara Aneka Ria Safari TVRI. Terkadang juga mereka menyelipkan lagu daerah yg dimainkan dengan nada 'semau gue' jelang malam semakin larut.
Seiring waktu, satu persatu dari mereka semakin berkurang dan menghilang. Beberapa rekan tersebut sudah tersebar mencari kehidupannya masing masing. Beberapa kenangan manis itu ibarat lukisan terpanjang dan selalu berlanjut. Hingga akhirnya perjumpaan saya dengan lagu koes plus berlabuh saat sempat beberapa waktu menjadi Script writer di smart FM Mks  dan kemudian menjadi Announcer freelance di 89,3 Fajar  News FM Mks sekitar tahun 2005 silam.
Sebagai seorang penyiar freelance berjatah format lagu kenangan dgn jatah siaran jam 21.00-24.00 Wita akhirnya membentuk segmentasi pendengar tersendiri . para Listener pun lebih didominasi bagi mereka yang usianya jauh diatas usiaku saat itu.
Tentunya sebagai seorang penyiar baru, sedapat mungkin saya berusaha memenuhi permintaan lagu meskipun terkadang terselip ego untuk menyelipkan beberapa lagu favorit pribadi salah satunya adalah koes plus. Hal ini berlanjut setiap siaran hingga akhirnya saya harus mengundurkan diri karena berpindah daerah kerja. L
Sebenarnya saya tak suka mengkotak kotakan jenis music  untuk digandrungi. Apapun jenis musiknya sepanjang enak dan mengena di telinga, why not !!  Tetapi tetap saja  lagu jadul tempo dulu masih sering di anggap sebagai ‘selera  yang aneh’, bagi sebahagian teman sebaya sampai sekarang. Tak bisa dipungkiri sieh,  remaja sekarang lahir ditengah maraknya  gempuran urban techno music barat dan  trend    K-Pop yg hampir merambah ke seluruh belahan hingga di Indonesia sendiri.   Tentunya bagi sebahagian besar remaja sekarang anti dan menganggap bahwa musik jadul Indonesia itu sudah layak dimuseumkan, dianggap sebagai hal yang sangat garing. Tampilan 'old fesyen' dgn warna lusuh dan music yg datar dan mendayu. Tapi itulah selera.  Sekali lagi music itu sifatnya universal. 
Dari kacamata awam, menurutku Koes Plus itu simple. music lumayan nyaman lah di telinga. Kord nya sederhana dan nada nya gampang dicerna alias tak ribet. Beberapa band dan penyanyi sekarang juga sepertinya mempunyai karakteristik yg sama. Dengan berbekal kord C-A D, kord tersebut sudah mampu menghasilkan ratusan karya lagu yg cukup familiar terdengar.
Tak cuma di Indonesia, di Barat sono noh, band beraliran punk rock ‘Green Day’ pun suksek menelorkan puluhan album hanya dengan bermodalkan 4-5 kord dasar mengandalkan beat yg lebih keras dan menghentak. Tapi itulah Koes Plus. Mungkin ini yang menyebabkan dia menjadi band legenda karena karyanya abadi. Beberapa lagunya bahkan sempat di recycle ulang oleh beberapa solois dan band ternama negeri dengan dedikasi untuk men-tribute-kan band legenda ini.
Meskipun kini Band Koes plus semakin jarang muncul di layar kaca, Setidaknya spirit syair dan lagu masih dapat ditemukan pada band KLA Project, atau Naif Band yang masih eksis diblantika music Indonesia.
Koes Plus mengandalkan Syair yang romantis. Lebih bersajak dan tidak to the point. Mewakili romantisme era dulu.  Liriknya puitik dan kuat serta dominan bersanjak A-A-A-A atau dalam 4 bait, setiap bait selalu berakhiran huruf vocal yang sama.  Genre musiknya santai. Kekuatan lagunya lebih ke lirik ; seperti pada lagu ‘Harapanku’. Berkisah tentang seorang pemuda yang mengimpikan seorang dewi yang pergi meninggalkannya.  Meskipun hanya beberapa detik, kalau tak salah lagu ini sempat menjadi background  lagu dalam sebuah scene film G30S/PKI, di mana dalam scene cerita dikisahkan saat itu, anak anak jenderal Ahmad Yani tengah bermain didalam rumah sesaat setelah pasukan cakrabirawa akan masuk kerumah untuk menjemput Sang jenderal.
Lagu Harapanku ini adalah satu dari beberapa lagu favorit yang kusuka. Beatnya rada rock n roll.  Lagu lain yang cukup berkesan antara lain Andaikan Kau Datang, Manis dan Sayang,  Telaga Biru, Hatiku Beku, Hidup yang Sepi, Bis Sekolah, Kisah Sedih di Hari Minggu dan Kembali ke Jakarta. Khusus interpretasi lagu ‘kembali ke jakarta’ ini terasa lebih mengena karena mempunyai kenangan tersendiri –Lebay Mode On. 


SOL MI SASI
Kini band itu berencana hadir di Makassar. Mungkin ini bukan kali perdana mereka tampil dikota daeng. Saya tak mengikutinya lebih jauh.  Sebagai seorang yang (belum bisa) dianggap sebagai fans fanatik, saya pun cukup antusias mendengar beritanya.
Ini saya ketahui saat berkendara motor dan melintas didepan hotel Clarion dibilangan jalan Pettarani Mks. Baliho nya terpampang tepat menghadap masuk kearah barat pintu gerbang hotel yang mengarah ketimur. Mengingat jalan Pettarani sekarang terbagi dua lajur sehingga hanya pengendara dari sisi bahu  kiri mengarah ke utara yang bisa melihatnya. Entahlah kenapa balihonya tak dipasang tepat di depan gerbang agar bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Bisa jadi ini mungkin hanya karena keterbatasan space promosi yang sudah terlebih dahuiu terisi oleh event lain ditempat yg sama.
Menurut informasi dikoran, band Koes Plus ini didatangkan untuk mengisi sebuah acara konser amal yang bertema  “A Charity Night to Remember with koes Plus” yang digelar oleh sebuah yayasan social perempuan pemerhati sehati setujuan atau disingkat  Prestist untuk menggalang dana membantu anak anak miskin berprestasi dlm bidang pendidikan.
Saya pun menepi dan kemudian iseng menelpon nomor salah satu dari panitia tiket yang nama dan nomornya tercantum di baliho itu. Suara di seberang sana menyebutkan harga tiket. Sedikit terkejut, saya pun mengucapkan terima kasih seraya menutup perbincangan.
***
SERENADE : KONSER FOR CHARITY
Hari minus satu  jelang Konser, saya mulai gelisah.  Jadual Meet & Greet with Personil Koes Plus sejatinya akan di helat pagi hari di lantai 4 Gedung Menara Graha Pena Fajar Mks dimana hari dan jam nya masih bertepatan dengan jadual hari kerja sedangkan posisi saya saat itu berada di kabupaten Maros yg jaraknya sekitar 30 KM dari kota Mks.
Mencoba bermain gambling dengan pertimbangan harga tiket yg dibandrol Rp. 500,000,-/orang, membuat saya jadi mengurungkan niat. Terancam batal menonton . Tiket yang terbilang mahal tuk kondisi kantong sekarang ini. Dengan harapan kalaupun tokh tak jadi menonton konser, minimal dapat bertatap muka atau sekedar berfoto bersama secara gratis diacara meet & Greet dgn band idola.
Rencana menghadiri M&G koes plus siang itu pun batal. Saya jadi kasak kusuk menghubungi beberapa teman dengan harapan dapat membeli tiket dgn harga yg lebih terjangkau. Seorang teman dari televisi lokal member solusi akan mengajak saya bergabung dengan kru nya yang akan meliput saat konser berlangsung. Ini yang membuat perasaan menjadi sedikit tenang hingga tiba sore jelang pertunjukan di helat.
Saya bergegas turun dari pete-pete 07 dan langsung menuju Phinisi ballroom yang terletak di lantai dua hotel jelang magrib. Berhubung acaranya bersifat semi formal, tak lupa sepatu dan baju batik pun tetap kupakai sepulang dari kantor. Datang lebih cepat dengan pertimbangan agar tidak terburu buru, dapat melaksanakan ibadah magrib dan lebih leluasa memilih tempat untuk menunggu kru teman tadi.
Melongok ke pintu masuk ballroom tampak beberapa panitia sudah siap di depan meja register tiket. Beberapa calon penonton juga sudah mulai berdatangan. Tampak olehku, pemeriksaan tuk masuk cukup ketat. Para calon penonton di bekali dengan pin bercorak nama yayasan berwana gold yang disematkan didada, serta goodiebag serta mendapat kesempatan tuk berfoto di depan stage poster besar koes plus yg memang sengaja dibuat untuk sesi foto pengunjung.
Rupanya  Konser dikemas secara cukup ekslusif. Pihak penyelenggara menyiapkan 50  meja secara VVIP dengan konsep gala dinner dan pameran busana  dengan suguhan layar panggung tiga dimensi dimana para penonton dapat langsung berinteraksi kepada penyanyi serta memegang busana dari para model berkeliling diantara penonton dengan mengenakan busana rancangan seorang perancang ternama yang nantinya akan dilelang.
Acara sudah akan dimulai. Sayup terdengar gemuruh suara MC mempersilahkan para penonton tuk sesi bersantap malam. Aku semakin resah menunggu telepon teman yang menginformasikan katanya sudah berada dijalan menuju hotel.
Rupanya dewi fortuna masih memberikan jalan yang mulus. Rekan tadi menginformasikan sepertinya mereka harus singgah disuatu tempat dahulu sebelum kehotel. Itu artinya menurut hematku, sudah berjalan setengah dari acara baru mereka akan hadir yaitu tepat saat band koes plus sudah memainkan beberapa lagu.
Tak ayal lagi akhirnya aku putuskan untuk membeli tiket. Sudah kepalang tanggung berada ditempat ini. Kuhampiri seorang panitia yang aku liat nampaknya ia cukup mendominasi dan paling senior. Setelah nilai tawar dan sedikit memelas, akhirnya tiket tersebut aku dapatkan dgn harga ¼ dari harga tiket awal.
***    
Setelah  acara makan malam dan peragaan busana , Formas lengkap Koes Plus yaitu Yon Koeswoyo, Danang, Seno dan Sony  pun muncul di panggung dan langsung menyapa penggemar. Tanpa berbasa basi lama, mereka langsung menggeber 8 lagu dari beberapa album secara beruntun. Di pertengahan lagu, beberapa penonton yang didominasi oleh kaum ibu beranjak kedepan panggung untuk berjoget. Mungkin mereka bergembira dapat mengenang kembali masa masa remaja mereka dengan kembali mendengarkan lagu yang didendangkan.
Lepas dari lagu delapan, barulah sang vokalis koesplus yaitu Yon yang juga satu satunya dedengkot koesplus terakhir yang masih tersisa memberikan kesempatan kepada MC Petta puang untuk mengambil alih acara untuk melelang baju rancangan Adi & Ali kepada penonton serta memutar film documenter mengenai sekilas tentang anak penderita gizi buruk, penerima beasiswa dan juga potret kaum dhuafa yang akan menerima sumbangan nantinya.
Nonton konser dalam ruang tertutup ada plus minusnya.Pengalaman menonton konser music masih bisa dihitung jari. Sejak jaman Sekolah dahulu paling hanya satu dua.  itupun yang gelar secara gratisan dikampus kampus. Hingga akhirnya setahun lalu,  secara tak sengaja saya menyempatkan diri untuk kembali menonton konser penyanyi ‘Shakila’ di Kawasan Marina Bay Singapura.  Entah angina pa yang membawa hingga saya ikut hadir disana secara Out of schedule.
Saat itulah kali pertama saya melihat sebuah konser  bertaraf dunia yang dibanjiri oleh ribuan penggemar dari beberapa Negara tetangga  dengan  konsep lighting ribuan megawatt serta antusiasme penonton yang lepas berjingkrak jingkrak hingga meluber sampai ke Centel Ban Sirkuit formula one yang digelar saat itu.  Sekali waktu juga pernah menyempatkan diri menghadiri  Soudrenalin Music A Mild Live dan jazz fort Rotterdam dengan konsep ruang  berangin dan terbuka seraya lesehan dirumput dalam sambil makan kacang goreng.  Rupanya kali ini pertunjukannya lebih ke pengaturan kursi dan meja bundar yang formal serta sajian menu peganan diatas meja yang membuat saya merasa jadi tersiksa. Tentu bagi beberapa orang termasuk diriku menjadi bosan merasa tak bebas bergerak. Karena kurang puas, aku yang mendapat kursi dijejeran belakang akhirnya beringsut maju dan memilih duduk melantai di bibir panggung bersama beberapa fotografer dan kuli tinta dari beberapa media massa. Walhasil meskipun cukup dekat namun apa daya karena hanya bermodalkan ipad yang daya jangkau zoomnya terbatas, aku harus cukup puas hanya berhasil mengabadikan beberapa gambar yang kuanggap cukup mewakili.
Penampilan koes plus malam itu nyaris sempurna. Kami terpuaskan oleh 20 lagu hits yang boleh dibilang hampir seluruhnya sangat familiar oleh penonton. Jelang akhir acara, pihak panitia menggelar lelang album terbaru dari KoesPlus yang akhirnya terlelang senilai 6 juta rupiah jatuh ketangan salah satu pengusaha dari kota Manado.
Akhirnya malam itu, penampilan pun ditutup dengan lagu ‘kapan-kapan’. Spirit koes plus  semakin terasa diakhir acara. Pesan damai dan cinta serta kesederhanaan dari lirik dan lagu semakin melekat dihati. Penonton tak beranjak hingga lagu itu akhirnya selesai.  Meskipun band lawas, sang Vokalis, Yon Koeswoyyang kini berusia sekitar 60 an lebih tetap tampil  energik dan penuh semangat. Berdendang dan menggelorakan lagu lagu karya abadi mereka yang tentunya akan selalu dikenang dihato oleh para penggemarnya.

                    : Download Lagu Koesplus

0 komentar: