Maling Kondang - Meng'kondang'kan kembali Hikayat Malin

Selasa, Oktober 23, 2012 di Selasa, Oktober 23, 2012




Sekilas Konser Maling Kundang di Taman Ismail Marzuki - Djakarta
Jakarta - Rangkaian pertunjukan berpayung Indonesia Kita pada 2012 telah sampai pada lakon ke-3, setelah 'Jogja Broadway: Apel, I’m in Love' dan 'Kabayan Jadi Presiden'. Dari Yogyakarta ke Tanah Sunda, kali ini tim kreatif yang terdiri Butet Kertaradjasa, Djaduk Ferianto, dan Agus Noor menyajikan cerita rakyat yang sangat populer dari Minangkabau.

Pentas 'Maling Kondang' yang disutradarai oleh Yusril Katil tersebut telah digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat dan Sabtu (12-13/10/2012) pukul 14.00 dan 20.00 WIB. Seperti biasa tim Indonesia Kita yang didukung Djarum Apresiasi Budaya menampilkan deretan bintang tamu beken. Kali ini, pertunjukan dimeriahkan  oleh Oppie Andaresta, Nirina Zubir, Effendi Gazali, dan Iwel Sastra.

Dari judulnya 'Malin Kondang', plesetan dari 'Malin Kundang', bisa ditebak bahwa pertunjukan  diwarnai dengan parodi yang lucu dan satir khas pentas-pentas Indonesia Kita selama ini. Dikisahkan, seorang bernama Malin Kundang pulang ke kampung halamannya setelah ia sukses dan kaya-raya. Dengan uangnya yang melimpah ia hendak membangun kampungnya dengan mencalonkan diri menjadi pemimpin setempat, dan ingin membangun monumen dirinya.

Banyak yang bangga dengan kesuksesan dan rencana-rencana Malin itu, tapi ibunya justru mempertanyakan asal-muasal uang didapat. "Lakon ini adalah bentuk keprihatinan kita, betapa orang kini tak lagi merasa malu melakukan korupsi,” ujar Butet Kartaredjasa dalam keterangannya di Jakarta beberapa waktu lalu.

Dari kisah itulah lakon diolah dan dikembangkan dengan meramu berbagai unsur dan bentuk seni dari Tanah Minang, mulai dari gerak ginyang maktaci, tapuak galembong, legaran randai, dendang dan silat, badendang dan saluang, sampai ke bentuk seni yang lebih kontemporer yakni Rap Minang.

" Ada kolaborasi antara maestro seni tradisi Mak Katik dengan rapper Minang Tommy Bollin,” ujar sutradara Yusril Katil. "Dalam pentas ini, kita melihat bentuk dan semangat baru, untuk terus mengolah tradisi yang ada, hingga menjadi tontonan yang lebih dinamis dan metropolis," tambahnya.


Seperti biasa pula, mengiringi pementasan akan digelar Pasar Kuliner Indonesia mulai pukul 12.00 WIB. Sudah pasti menu-menu legendaris Minang sudah menunggu seperti rendang belut, rendang telur, gulai pakis udang, ketupat pitalah, lamang tapai, ampiang dadiah, sate padang, bareh randang, karupuak sanjai, bika, kue talam, kampiun, kopi kawa, tunjang, ikan gulai asam padeh, gulai usus, pinyaram, dan galamai. Nyam! <detik>

***

Surprised !! Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di Taman Ismail Marzuki. Rada Katro sieh, setelah lama berniat akhirnya baru ada kesampaian. Sebelumnya, saya hanya melihat TIM dari bacaan serta artikel saja. dalam bayanganku, TIM itu itu adalah tempat yang sangat asyik. Banyak pagelaran seni disini. Tempat orang orang hebat dan penggiat seni dengan ide idenya yang fantastik. Tempat nya orang orang film.

Dan malam itu, akhirnya saya dan istri berkesempatan tuk menonton sebuah pagelaran karya duo Butet+Djaduk bersetttingkan cerita rakyat dari daerah Sumatera Barat. Suasana malam itu cukup meriah, banyak pasar seni serta jajanan kuliner khas Cikini. Maklum, namanya saya yang dari daerah jarang jarang melihat pasar seni langsung jatuh cinta :)

Penampilan dibuka dengan sedikit monolog dari Butet Kertaradjasa. Dengan harga tiket Rp. 100.000,- Kami menikmati pertunjukan dengan khidmat. Kejutan kejutan yang tak disangka selalu ada disetiap adegan. Baru tau juga rupanya bpk Efenddy Ghozaly, Phd itu cukup pandai beradu akting dengan Nirina Zubir serta lagu Rap ala Minang membuat seluruh penonton berdecak kagum

Love Taman Ismail Marzuki.  Jaya Terus Karya Anak Bangsa.

0 komentar: