Daeng Hasanuddin

Senin, September 03, 2012 di Senin, September 03, 2012

Rahasia Dibalik Makna Kata “Daeng”


Selama ini Makassar diberi gelar sebagai Kota Daeng. Tapi apa sebenarnya arti dan makna yang terkandung dalam kata “daeng” tersebut?

Sebenarnya ada dua arti kata “daeng”, yaitu pertama sebagai sebutan kepada orang yang lebih tua atau yang dituakan. Sifatnya sama dengan kata “mas” bagi orang Jawa atau ”akang” bagi orang Sunda. Panggilan ini awalnya hanya milik suku Makassar saja, karena “daeng” memang sebenarnya adalah bagian dari budaya suku Makassar. Daeng sebagai panggilan kepada orang yang lebih tua, dipergunakan merata kepada pria ataupun wanita.

Kata “daeng” yang kedua atau lebih spesifik adalah bagian dari paddaengang. Dalam tradisi suku Makassar, paddaengang merupakan bagian penting. Istilah lainnya adalah areng alusu’ atau nama halus. Seseorang yang bersuku Makassar, biasanya akan menerima penyematan nama halus atau paddaengang di belakang nama aslinya. Contohnya seperti nama asli Muhammad Irwan, tapi kemudian ditambahkan dengan paddaengang, yaitu Daeng Rewa. Jadilah nama lengkapnya Muhammad Irwan Daeng Rewa.

Paddaengang biasanya diambil dari nama para leluhur atau tetua dalam garis keluarga suku Makassar. Biasanya berupa doa atau harapan, namun ada juga yang berupa ciri fisik atau kelakuan. Penyematan paddaengang di belakang nama seseorang dulu dilakukan dengan upacara khusus. Namun belakangan seiring perjalanan zaman, paddaengang itu disematkan begitu saja tanpa ada upacara khusus.

Bagi orang Makassar, setelah resmi menyandang nama paddaengang, maka yang bersangkutan sudah masuk masa akhil baliq, maka wajib hukumnya bagi orang-orang di sekitarnya apalagi yang lebih muda dari yang bersangkutan untuk memanggil dengan nama paddaengang-nya. Memanggil orang tersebut bukan dengan paddaengang-nya akan dianggap tidak sopan, karena paddaengang adalah nama halus dari yang bersangkutan.

Strata Sosial
Pada dasarnya dulu di Makassar terdiri atas 4 strata sosial yaitu:
1. Karaeng: Raja atau Bangsawan
2. Daeng: Kalangan pengusaha, shah bandar
3. Ata : Budak

Dalam tradisi asli suku Makassar sebenarnya juga dikenal yang namanya kasta. Kasta tertinggi adalah Karaeng atau raja dan kasta paling bawah adalah Ata atau budak. Mereka yang berkasta Karaeng berhak mendapat paddaengang, sementara pada Ata tidak. Sultan Hasanuddin sendiri punya nama paddaengang, yaitu Daeng Mattawang plus gelar kebangsawanan, sehingga nama aslinya menjadi I Mallombassi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin Karaeng Bontomangape Tu Menanga Ri Balla Pangkana. I Mallombassi adalah nama kecil, daeng Mattawang adalah nama paddaengang, Sultan Hasanuddin adalah nama Islamnya, Karaeng Bontomangape adalah gelar kebangsawanan dan Tu Menanga Ri Balla Pangkana adalah gelar anumerta yang berarti orang yang meninggal di rumah.

Informasi lain menyebutkan, nama Paddaengang itu awalnya adalah nama kedua bagi kelompok bangsawan saja. Nama ini diberikan segera setelah lahir. Pemberian nama Paddaengang saat ini memang telah terjadi pergeseran sehingga lazim kita mendengar seseorang yang tidak memiliki darah kebangsawanan mendapat panggilan daeng.

Untuk membedakannya mudah saja. Seseorang yang benar2 berdarah bangsawan akan kelihatan dari namanya ketika dituliskan misalnya; Syamsuddin Daeng Bani atau Jamaluddin Daeng Limpo. Jika anda mendengar kata daeng disematkan pada nama depanna seperti Daeng Ucu (Yusuf) berarti dia bukan dari kalangan bangsawan murni. Terdapat memang orang2 yg kemudian dipanggil daeng di awal namanya. Tapi itu adalah penghargaan masyarakat yg datang kemudian dikarenakan oleh kelebihan org tsb dalam hal kepintaran, kekayaan dan keberanian. 

 (dari berbagai sumber dan disarikan kembali oleh Majallah Makassar Terkini).

***
Sewaktu kecil, aku pernah mengira ngira, mungkin Sultan Hasanuddin, Sultan daeng Raja dan mungkin juga ada Sultan Sultan lain yang merupakan ikon Pahlawan dari daerah Sulawesi ini masih ada keturunan dari kesultanan Jawa, mungkin Jogja ataukah dari negeri Johor Seberang. Atau bisa juga karena waktu itu situasi di Makassar masih di dominasi oleh rumpun kerajaan Melayu sehingga nama Sultan Hasanuddin lebih melekat dibandingkan dengan nama gelar belakangnya daeng Mattawang.

Bukan bermaksud  mempermasalahkan ataupun menginterupsi kenapa harus memakai gelar Sultan, bukannya Daeng pada nama pahlawan Hasanuddin, Ayam Jantan dari TImur; jikalau seandainya nama pahlawan nasional Sultan Hasanuddin itu lebih dikenal dengan nama daeng Hasanuddin mungkin terlihat keren ya! tentulah karakteristik daerah Makassarnya akan semakin kental, Nama daeng akan semakin mempertegas asal usul pahlawan yang dimaksud. serta kemungkinan kemungkinan lain dari pikiranku saat itu yang terlalu Absurd hehe.

Akupun mencoba mencari cari artikel mengenai pengertian Sultan itu untuk menjawab pertanyaan bodohku sendiri. Setelah bertanya kepada Om Google, beberapa pengertian sultan seperti salah satunya  yang aku kutip dari Wikipedia,

'Pengertian Sultan dalam (bahasa Arab:  sulthaanun, wanita: Sultanah) merupakan istilah dalam bahasa Arab yang berarti "raja", "penguasa", "keterangan" atau "dalil". Sultan kemudian dijadikan sebutan untuk seorang raja atau pemimpin Muslim, yang memiliki suatu wilayah kedaulatan penuh yang disebut Kesultanan (bahasa Arab: سلطنة, sulthanatun). Dalam bahasa Ibrani, shilton atau shaltan (bahasa Ibrani: berarti "wilayah kekuasaan" atau "rezim.'

Di Indonesia, raja pertama yang diketahui menyandang gelar "Sultan" adalah Sultan Sulaiman (wafat 1211) dari Lamreh (kini di provinsi Aceh). Di Jawa, raja pertama yang memakai gelar "Sultan" adalah Pangeran Ratu dari Banten (bertahta 1596—1651), yang mengambil nama tahta Sultan Abulmafakhir Mahmud Abdulkadir tahun 1638. Ini berarti misalnya sebutan "Sultan Trenggana" (bertahta 1505—1518 dan 1521—1546) adalah salah, karena Trenggana bertahta sebelum tahun 1638 tersebut.

Di Indonesia, gelar ini kini masih digunakan antara lain oleh : Sultan Kasepuhan, Kanoman, Cirebon, Kutai, Pontianak, Tidore dan Jogjakarta

Nah, dari sinilah aku mengambil kesimpulan, rupanya gelar Sultan yang melekat pada Hasanuddin itu bisa jadi  merujuk kepada gelar kebangsawanan dari sebuah kesultanan atau bisa pula mungkin lebih merujuk ke arti "Pemimpin' pada masa itu.

Arggghh, maafkan daku yang tak paham mengenai sejarah dari Pahlawan daerahku sendiri.

0 komentar: