Salim & Sapardi:: 'Aku ingin mencintai I Lagaligo dengan sederhana'

Minggu, Juni 12, 2011 di Minggu, Juni 12, 2011

Muhammad Salim adalah penerjemah serta pembaca aksara Lontara Bugis yang ulung. Karyanya berupa epik I laga Galigo tergurat di atas lembar-lembar lontar dalam bentuk puisi dengan bahasa Bugis kuno. Mahakarya ini diperkirakan ditulis pada kisaran abad ke-13 hingga abad ke-15 Masehi. Puisi dalam bentuk sajak bersuku lima yang menceritakan asal-usul manusia ini juga berfungsi sebagai almanak sehari-hari.

Patut dicatat bahwa naskah I La Galigo adalah karya sastra paling tebal sedunia, mengalahkan epik legendaris dari India, Mahabharata. Jumlah larik syair Mahabharata adalah 160.000 larik, sedangkan I La Galigo memiliki jumlah larik syair lebih dari dua kali lipatnya, yakni lebih kurang sebanyak 360.000 larik. Inilah mahakarya peradaban Bugis yang luar biasa.

Cerita I La Galigo dikembangkan melalui tradisi lisan masyarakat Bugis dan masih sering dilantunkan dalam pelaksanaan beberapa upacara adat Bugis. Sebagian rangkaian kisah dalam naskah monumental ini masih tersimpan di Museum I La Galigo, Makassar, Sulawesi Selatan. I La Galigo dinilai sebagai salah satu bukti bahwa orang Bugis adalah suku bangsa yang besar dan berperadaban tinggi. Namun, karya besar ini seolah tidak mendapat perhatian lagi, termasuk sosok Bissu (pelantun I La Galigo) yang sebenarnya memiliki peran sentral dalam pelestarian I La Galigo. Bissu seringkali menuai anggapan miring dari masyarakat hanya karena berjender ganda. Padahal, mereka adalah penjaga setia tradisi I La Galigo.

Cukupkah kita hanya sekadar membanggakan I La Galigo? Tentu saja tidak! Aksi nyata untuk melestarikan aset budaya ini jauh lebih penting daripada hanya membanggakannya semata. I La Galigo sudah kenyang akan sanjungan. Yang diperlukannya hanyalah perhatian yang serius dan berkelanjutan dari pihak-pihak terkait. Bentuk dari perhatian itu mungkin dapat dimulai dengan mengangkat derajat sosok Bissu.

Cerita tentang kebesaran bangsa Bugis seakan-akan hanya menjadi awan gelap di negeri sendiri, termasuk di tempat asalnya, Sulawesi Selatan. Di negeri para pelaut itu, I La Galigo hanya mengisi imajinasi di ruang ingatan orang semata. Hanya sedikit kalangan tertentu yang masih merawat mahakarya ini dengan sungguh-sungguh. Ironisnya, di luar negeri, I La Galigo justru lebih dihargai. Pada tahun 2004, misalnya, kisah dalam epik I La Galigo dipentaskan di berbagai belahan dunia, termasuk di Amerika Serikat, Eropa, Australia, dan di negara-negara di Asia.

Baru pada tahun 2011 ini, I La Galigo pulang kampung ke tanah Bugis. Pada 22-24 April 2011, bertempat di pelataran Benteng Fort Rotterdam, Makassar, epik I La Galigo dipentaskan. Akan tetapi, pergelaran I La Galigo di Makassar masih menyisakan kesan miris karena pementasan ini justru disutradarai oleh seniman Barat, Robert Wilson, dan diadaptasi oleh Rhoda Gruer.

Sebuah kesalahan fatal jika epik seagung I La Galigo malah menjadi tamu di negeri sendiri. Kesadaran kita baru muncul ketika I La Galigo menjadi perbincangan media massa di luar negeri. Adalah sesuatu yang sungguh aneh ketika karya besar bangsa sendiri justru lebih dihargai di mancanegara daripada di negeri sendiri. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. [ /bp.guru.bp/

*foto jempretan Dul, teman saya yang (entah dia sbenarx fotografer jempol atau pasapeda keren:) ) dari pementasan I lagaligo Mks bisa di intipz di sini

***

Sengaja saya awali postingan ini tuk memberi sekilas gambaran mengenai I lagaligo . Jujur, saya sendiri sbenarx nd ngerti ngerti amat tentang sastra. Adapun karya Epik I lagaligo itu kembali mencuri perhatian setelah pementasan nya beberapa waktu lalu di Fort Rotterdam Mks


(Sapardi Djoko Damono)

Nah, masih di beberapa waktu lalu tepatnya hari selasa tgl 14 Juni 2011, beberapa penggiat seni kota daeng yang tergabung dalam rumah budaya makassar 'rumata' menggelar acara Makassar International Writer Festifal (MIWF) atau pertemuan para penulis dari berbagai belahan dunia di Makassar. Rumah Budaya yang di prakarsai oleh Sineas Jempolan, Riri Riza dan serta dari Panyingkul, LilY, yg mencurahkan kecintaannya dalam bentuk mendesain ulang rumah Riri yg sementara ini sudah dalam proses tahap pembangunan untuk nantinya dijadikan sebagai wadah kreasi para seniman Makassar.

Acara ini berlangsung dengan sukses dan meriah. Satu hal yang menarik perhatian adalah hadirnya sang professor puisi, Sapardi Djoko Damono yang tampil membawakan delapan karya puisinya yang khusus dia interpretasikan dari terjemahan I Lagaligo. Bahkan seorang Sapardi pun sampai meluangkan waktunya, memberikan apresiasi kepada sang maestro Alm.Muh. Salim yang tak sempat lagi melihat karya monumentalnya di angkat ke dalam mahakarya teater epos lagaligo berkeliling dunia.

Tak ada maksud untuk mengelu elukan kedua tokoh ini. Mereka lahir dijaman yang sama dan telah menyumbangkan beberapa karya seni syair dan roman yang layak untuk dikenang. Dan tentunya belajar dari kesederhanaan 'duo-S' ini, tak salahlah jika saya sendiri, sebagai orang yg juga masih awam akan seni sastra, saya kira karya mereka dapatlah dijadikan acuan untuk belajar bagaimana membuat karya sastra yang BAIK, HUMANIS, MEMBUMI dan yg terpenting, DIAKUI oleh berbagai lapisan masyarakat.

0 komentar: