Surat Cinta dari Padang Lampe

Jumat, Januari 14, 2011 di Jumat, Januari 14, 2011

Dua bulan Haitus karena beberapa kesibukan, spertinya kangen juga sekedar corat coret - nulis lagi di blog ini.

Jadi begini : Setelah lulus dari Politeknik Unhas 10 tahun silam, Alhamdulillah kini ada kesempatan untuk kembali lagi ke bangku kuliah. Hohoho, Inilah konsekuensi tugas didaerah, juga beberapa faktor lain (yg salah satunya bisa jadi juga karena faktor malas qkkk) hingga tibalah masa membulatkan tekad menambah eh melengkapkan ilmu dan titel sarjana, Hikzz..

Ought!! ternyata sudah banyak kebijakan yang berlaku. Semakin kurangnya kelas Ekstensi Negeri bagi mahasiswa transfer dan jadual perkuliahan yg padat bagi mereka yang lanjut di kelas reguler hingga saya pun mengambil keputusan tuk mengambil Jurusan Pertanian kelas Eksekutif di Universitas Muslim Indonesia - Makassar. Yupzzz, ini adalah bagian dari resolusi tahun kelinci . Sebuah resolusi yang sering tertunda karena hal lain yang harus d segera diwujudkan dan tak mungkin ditunda lagi :)

Kuliah sambil kerja ternyata menyenangkan. Capek sieh. Tapi memang menyenangkan. Kita dapat suasana dan teman baru kembali. Dinamis lah. di bawa senyaman mungkin lah. Mungkin karena memang saya yang senang dengan suasana kampus dan perkuliahan (qkkkk) atau karena memang jadual kuliahan yang hanya sabtu minggu hingga ada kesempatan tuk sekedar menarik nafas dan mengurut kaki.

Nah, setelah beberapa bulan kuliahan, saya pun di wajibkan tuk mengikuti salah satu kegiatan kerohanian yaitu pencerahan qalbu. Rupanya kegiatan ini adalah agenda Tahunan dari kampus kami. Dalam setahunnya bisa diadakan beberapa kali. dan kegiatan ini sudah berjalan sekitar 10 tahun tepatnya di tahun 2000 silam.

Saya yang notabene masih terhitung 'baru' sebagai anak mahasiswa tentunya antusias. Anggap saja reuni ekstrakul anak kuliahan. hihihi, Ternyata acaranya akan di adakan di Pesantren Mahasiswa Darul Mukhlisin, sebuah nama yang sering saya dengar tapi belum familiar. Mungkin pernah saya lewati tapi terindahkan begitu saja... *

Tibalah hari yg di nanti. Bertolak dari Kampus, beberapa bus pun mengantarkan kami menuju kesana. Perjalanan memakan waktu hampir dua jam karena mobil yg lambat dan sempat terjebak macet di daerah daya. Gerimis kota menyambut kami begitu memasuki area pesantren.

Pesantren ini ternyata berlokasi di Dusun Sambau Desa Padanglampe, Kec. Ma'rang Kab Pangkep atau sekitar 70 km dari kota Makassar. Begitu sampai di kota pangkep, kita mengambil jalan belokan sebelah kanan dan terus masuk di jalan menuju pabrik semen Tonasa. Nanti jika sampai disebuah belokan sebelah kiri, kita masuk lagi dan terus hingga kira kira jaraknya sekitar 9 Km dari jalan raya belokan pertama. Nah, Jalan inilah yang akan mengantarkan kita masuk menuju pintu gerbang pesantren.

Desa Padanglampe ini bersebelahan dengan utara Desa Alesipitto, sebelah selatan Kecamatan Labbakkang Kelurahan Alau Salo, sebelah timur Kecamatan Bungoro Segeri dan sebelah barat Kecamatan Ma'rang dengan luas wilayah 1.385 h. Sebuah desa yang subur dan memiliki potensi seperti pertanian, perkebunan dan tambang. Suhu udaranya antara 25 – 30°, desa ini dikelilingi oleh pegunungan dengan ketinggian antara 20-50 m di atas permukaan laut, dengan jumlah penduduk 3102 orang, mayoritas muslim (Islam 3082, Kristen 12 dan Katolik 8 orang) dengan mata pencaharian utama pertanian dan perkebunan.

Desa ini juga di kenal sebagai syurga buah Jeruk dan merupakan salah satu dari sekian banyak desa binaan UMI. Desa Padanglampe binaan UMI ini awalnya dinegosiasi pembentukannya oleh para tenaga pengabdi dari UMI sendiri pada tahun 1997. Dan pada tanggal 26 Juli tahun yang sama secara seremonial diresmikan oleh Bupati Kepala Daerah Tk. II Pangkep yang saat itu dijabat oleh A. Baso Amirullah yang disaksikan oleh Ketua YBW-UMI, Alm Prof. Dr.H.Abdurahman A. Basalamah (Rektor waktu itu) serta seluruh pemuka dan tokoh masyarakat desa Padanglampe. Pesantren ini sendiri pertama kali dibuka/digunakan pada tanggal 22 September tahun 2000* Om Wikipedia


Selama tiga hari dua malam, kami tinggal di pesantren ini. Meskipun singkat, ada banyak hal yang kami peroleh dari tempat ini. Setidaknya kami mempunyai gambaran mengenai bagaimana suka duka menjadi santri, belajar dan tinggal bersama dilingkungan pesantren.

Lokasi Pesantren berada di tengah tengah bukit dan pegunungan desa. Terdiri dari beberapa Gedung termasuk asrama santri. Setiap kamar di isi oleh 16 orang santri. Ranjang yang digunakan adalah ranjang tidur bertingkat yang di atur sedemikian rupa. Asrama putra dan putri pun dipisahkan dan jaraknya cukup berjauhan baik antar asrama maupun gedung belajar dan mesjid utama.

Beberapa hal yang sangat berkesan adalah pada saat bangun malam dan makan bersama. Pukul Tiga shubuh kami sudah dibangunkan untuk bersama sama sholat Malam di mesjid. Nanti barulah selepas dhuha pukul 7.15 pagi waktu setempat, kami baru beranjak tuk kembali kekamar, diberi waktu tuk mandi dan berkumpul kembali tepat jam 8 tuk makan pagi untuk akhirnya masuk ke kelas dan mesjid secara bergantian. Belajar hingga pukul 10 malam.

Proses pembelajaran selama pemondokan adalah dengan melakukan kegiatan ibadah secara intensif, shalat berjamaah di masjid, zikir, diskusi dan kajian keislaman dan pembentukan sikap dan prilaku yang mulia melalui interaksi sosial antara dosen/pembimbing dengan mahasiswa santri maupun sesama mahasiswa santri sendiri. Sehingga rasa ukhuwah yang telah dibangun di pesantren dapat terbawa ketika masuk di kampus.

Sesi makan pun harus teratur dengan tetap mengutamakan kebersamaan. Secara bergiliran, dosen kelas membuat jadual untuk mengambil makanan di dapur dan menyiapkannya di tengah ruangan. Makanan dibagi dalam setiap baki dimana satu baki terdiri dari empat porsi bagi empat santri untuk disantap bersama. Yihaaaaa *tepok jidat :(












Menurut informasi beberapa alumni, Pesantren itu dahulunya adalah sebagai laborotorium lapang Fakultas Pertanian UMI dan lahan penggemukan sapi. Berada di atas area lahan hampir 194 M2. Oleh penduduk sekitar, daerah ini juga di kenal sebagai penghasil jeruk untuk memasok kebutuhan masyarakat. Dari hasil rembuk beberapa pejabat kampus (waktu itu), akhirnya di tahun 2000, tempat ini resmi dijadikan sebagai sarana pembelajaran untuk penambahan pembelajaran ilmu islam bagi setiap mahasiwa baru UMI. Nah, Bagi mahasiwa reguler, (yg masuk lewat jalur UMPTS), mereka di beri pencerahan qalbu selama satu bulan penuh. Seiring waktu berlalu, secara bertahap hingga kini. Seiring dengan aktifitas Pesantren ygdi jadikan sebagai sarana bina ilmu dan pencerahan qalbu maka dibangunlah sarana dan prasarana, mesjid, asrama, aula, kelas dan kantin. Pesantren pun difungsikan sebagai pesantren dengan peserta dari mahasiswa baru UMI dengan program bernama 'Pencerahan Qalbu', yang melibatkan dosen pembimbing dalam dan luar negeri, masyarakat serta instansi pemerintah dan swasta.

Pihak UMI menyadari bahwa mahasiswa yang masuk di UMI itu berasal dari lembaga pendidikan/sekolah yang berbeda-beda. dan bisa jadi dari tahun ke tahun, tingkat intelektualitas menunjukkan semakin rendahnya pemahaman dan pengetahuan dasar keislaman. Tipisnya kesadaran tentang akhlaqul karimah itulah yang menjadi alasan hingga diharapkan setelah mengikuti kegiatan ini setidaknya mahasiswa khususnya UMI dapat semakin meningkatkan pengetahuan dasar keislamannya, dapat tumbuh kesadaran berakhlaqul karimah dan pembentukan pola pikir Islami sebelum mereka menekuni perkuliahan di kampus.

1 komentar:

Herman Laja mengatakan...

Keren.. keren...

jadi pengen kesana.