Minal Aidin Walfaidzin, Maksudnya apa Sieh ?

Kamis, September 09, 2010 di Kamis, September 09, 2010

(Malam Lebaran 1431 H) :)

19:58 Wita tepatnya kamis malam. Sehabis berbuka puasa, sholat magrib berjamaah serta ikut sejenak mengumandangkan takbir dan tahmid serta puja puji kepada Allah, iseng saya kembali membuka note book di kamar seraya menunggu waktu isya masuk.

Sebuah artikel menarik dari rekan Ismail dari Iran tentang arti dari Minal Aidin Walfaidzin. dimana tentunya bisa menambah referensi kita mengenai makna dari kata tersebut.

Berikut penulisan beliau :

“Arti kata Minal ‘Aidin wal Faizin apa sieh?”

“Mohon maaf lahir dan batin kan?” jawab yang ditanya.

Bagi yang bertanya dan di tanya serta jutaan orang di negeri kita mungkin masih ada yang menganggap arti ucapan bahasa Arab yang sering diucapkan setelah shalat ‘idul fitri tersebut adalah “Mohon Maaf Lahir dan Batin.” Sebenarnya wajar juga jika disangka demikian, media elektronik dan cetak dalam ucapan lebarannya suka merangkai kedua ucapan dengan bahasa yang berbeda ini sehingga sering dianggap, rangkaian kalimat bahasa Indonesia pada bait kedua adalah arti dari bait pertama yang terucap dalam bahasa Arab, padahal tidak demikian. Perangkai pertama kalimat ini, juga awalnya (tentu) tidak bermaksud demikian.

“Terus artinya apa dong kalo bukan mohon maaf lahir batin?

Minal ‘aidin wal faizin memiliki dua kata inti, ‘aidin dan faizin. ‘Aidin akar katanya sama dengan ‘aid pada ‘idul fitri yang artinya kembali, yang maksudnya adalah sesuatu yang kembali atau berulang, sedangkan ‘aidin menunjukkan para pelakunya, yakni orang-orang yang kembali. Sedangkan, faizin berasal dari kata fawz yang berarti kemenangan. Maka, faizin adalah orang-orang yang menang. Sedangkan Min dari kata minal berarti “menjadi bagian” dari kedua kata berikutnya.

Kalau secara literal kita artikan, sesungguhnya rangkaian kalimat tersebut tidak memiliki makna yang jelas, “…menjadi bagian dari orang-orang yang kembali dan menang.”

Karenanya sebenarnya ada kalimat yang hilang dari kalimat ucapan tersebut. Supaya memiliki makna kita tambahkan kata ja’alanallaahu (semoga Allah menjadikan kita). Jadi lengkapnya begini:

Ja’alanallaahu minal ‘aidin wal faizin

Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali (kepada ketakwaan dan kesucian) dan orang-orang yang menang (dari melawan hawa nafsu selama Ramadhan).

Nah, tambahan kata “Mohon Maaf Lahir dan Batin” tidak ada salahnya, namun merupakan permohonan yang mesti kita terima dan jawab. Bukan lantas diklaim sebagai ucapan bid’ah.

Memang ucapan “Minal ‘Aidin wa Faizin” tidak pernah dicontohkan atau diamalkan oleh Nabi saww beserta sahabat-sahabatnya, namun bukan berarti tidak boleh, bid’ah, sesat dan terlarang.

Yang dilakukan oleh sahabat-sahabat Nabi saww, bisa kita lihat dari atsar berikut:

Jubair bin Nufair meriwayatkan:

“Para sahabat Nabi Shallallaahu’alaihi wa Sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabballallaahu minna wa minka (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”.

Dan orang-orang setelah mereka menambahkan: Shiyamana wa Shiyamakum (Puasaku dan juga puasamu)

(Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari [2/446])

Memang ada baiknya melakukan amalan berdasarkan petunjuk Nabi saww, namun selama Nabi tidak memberikan pengkhususan dan batasan, maka kita juga boleh berinovasi dalam hal ini.

Jadi apa pun yang kita ucapkan, selama tidak ada memberikan pengkhususan dan batasan, kita kembali ke Nawaitu, untuk itu dengan ini saya menghaturkan maaf seraya mengucapkan Taqabballalahu minna wa minka / Minal aidin Walfaidzin / selamat berlebaran, mari kembali ke fitrah /Maaf Lahir Batin 1431 H...

Semoga amalan kita tercatat dalam kitab kebajikan dan diterima oleh Allah SWT. Amin

0 komentar: