Selalu Begitu (Catatan perjalanan Umrah)

Minggu, Mei 23, 2010 di Minggu, Mei 23, 2010

Belum cukup terlambat untuk menuliskannya. Syukurlah kembali ada waktu untuk sekedar corat coret, setelah hampir tiga bulan tak mengunjungi blog ini. Hoahh, masih ngantuk stelah euphoria final Liga Champion semalam, seolah tak ingin ketinggalan mengikuti euphoria demam bola menjelang bergulirnya musim kompetisi terakbar piala dunia bulan Juni depan meski aslinya jarang bermain bola hehe. Dalam koran hari ini, berita bola tersebut mengisi hampir beberapa pojok halaman berbarengan dengan berita duka cita untuk mantan ibu Negara, Almarhumah dr. Hasrie Ainun Habibie, Metafisika Mama Laurent dan maestro keroncong Gesang yang kemaren baru saja berpulang kembali menghadap Sang Ilahi.

Bulan Januari 2010.
Berawal dari keinginan orang tua yang sedari dulu berniat ingin menunaikan ibadah haji setelah berdua memasuki masa pensiunnya. Namun rencana sebatas rencana. Di usianya yang semakin senja, kondisi fisik yang semakin menurun serta mengharap gaji dari pensiunan guru yang tak seberapa, sepertinya keinginan tersebut belum juga terwujud sampai sekarang. Kini, Uang pensiun itu telah cair. Ditambah dengan sedikit tabungan akhirnya menghasilkan rembuk untuk berencana berangkat Haji tahun ini. Informasi mengenai sistem pendaftaran haji untuk musim tahun 2010 mulai di rangkum.

Beberapa anaknya menyarankan, agar mereka mendaftar di ONH Plus saja dengan melihat pertimbangan keruwetan dan rumitnya sistem pendaftaran haji di Depag. Jujur saja, Akhir akhir ini kepercayaan kami terhadap system haji melalui jalur pemerintah sedikit menurun. Stigma yang terbentuk beberapa waktu terakhir, membuat orang tua menjadi enggan untuk mendaftar di KBIH Depag. Selain peluang untuk memperoleh quota yang kecil, banyaknya para jamaah yang terlantar di pemondokan, keterlambatan subsidi nasi ke tenda jamaah, dan hal lain yang rupanya menjadi momok bagi mereka. Belum lagi proses mendaftar tahun ini, entah empat atau lima tahun baru mendapatkan porsi. Itupun tidak menjamin kestabilan biaya haji yang semakin merangkak naik setiap tahunnya.

Dari teman nya, akhirnya disarankan untuk mendaftar disalah satu Biro perjalanan Haji mengenai informasi haji khusus ONH Plus. Menurut rekan beliau, sekarang ini banyak Biro perjalanan dengan nama besar tapi ternyata hanya sebagai agen pengumpuli jamaah untuk disuplai ke biro resmi. Dari beberapa informasi lewat obrolan dan media massa, kami pun mencoba merekomendasikan nama yang menurut kami sepertinya bagus.Tetapi tampaknya dari pihak ibu sudah membulatkan tekad dan berkeras untuk akhirnya memutuskan menyetorkan uang muka pemberangkatan ONH Plus atas rekomendasi dari teman sepengajarannya yang sudah lebih dahulu berhaji.

Diawal Februari 2010
Saat melintasi salah satu jalan di bilangan pusat kota Mks, saya iseng singgah disalah satu perusahaan travel biro perjalanan umrah dan haji plus. Dari beberapa travel yang saya tanyai, sepertinya paket dan harga biro ini cukup menarik. Harganya sedikit lebih terjangkau dari harga travel yang lain termasuk biro yang dipilih ibu saya. Setelah tanya sana sini, terlintas dalam fikiran, kenapa bukan saya saja dahulu yang pergi kesana? Berumrah dengan perjalanan spiritual ke Baitullah dan nantinya bisa memberi penggambaran meski secara garis besar mengenai bagaimana kondisi di sana.

Cukup lama saya berada di Biro Travel tersebut. Akhirnya dengan sedikit nekat, saya putuskan untuk mendaftar saja pada pemberangkatan minggu ketiga setelah mempertimbangkan secara fisik dan financial serta schedule kerja dan waktu pemberangkatan. Keputusan yang mungkin terlalu dini pada saat itu, tanpa mengabarkan lagi kepada pihak rumah.







Jadi begini:
Setelah menyelesaikan segala administrasi dan mendapat bimbingan singkat / manasik umrah dari biro Umrah, akhirnya tiba hari- Tersebut. Meski telah memperoleh gambaran dan sedikit searching informasi di internet, terus terang perasaan deg-degan dan kekhawatiran yang mungkin (tak) beralasan itu masih sempat menghantui. Ini kali pertama juga saya melakukan perjalanan sejauh ini. Perjalanan melintasi benua dimana saya sendiri tak mengetahui seperti apa suasana dan kondisi di “Atas” sana.

Pukul 09.00 Wib waktu Jakarta: Beberapa jamaah dari biro perjalanan haji lain tampak tidur terlentang di beberapa sudut ruang bandara. Secara bergerombol, beberapa diantara mereka tampak menggelar tikar dan menggunakan tas bawaan sebagai bantal tidur. Dari informasi pembimbing travel kami, ternyata rombongan itu sudah menginap selama beberapa hari di bandara akibat belum mendapatkan visa.

Mendengar hal tersebut, kami langsung ciut. Hal yang tak pernah terpikirkan kini terlihat di depan mata. Tak urung kegelisahan langsung membayangi. Meskipun dari pihak travel telah memberikan keyakinan bahwa insya allah rombongan kami tidak akan terjadi hal hal yang tidak diinginkan dan semuanya akan berjalan dengan lancar sesuai schedule.

Ternyata Begitu:
Ternyata isyu kabar di media beberapa bulan lalu itu mengenai kisruh kepengurusan visa umrah haji itu kini terbukti kbenarannya. Pemerintah Arab Saudi mengeluarkan kebijakan memperketat visa bagi jamaah haji dan umrah untuk bulan Januari dan diperkirakan hingga akhir musim haji tahun 2010 atau dengan kata lain pemberangkatan umrah kali ini delapan puluh persen akan mengalami penundaan. Gleggkk..

Penyebabnya adalah akibat dari pihak Kedubes Arab Saudi yang membatasi kouta visa dengan alasan kekhawatiran akan semakin banyaknya penyusup illegal yang mencoba membuat keonaran dan untuk menghindari penyalahgunaan visa oleh jamaah untuk tetap tinggal di Tanah Suci hingga musim haji atau untuk bekerja di sana serta beberapa alasan keamanan lainnya.

Menurut biro perjalanan umrah Indonesia, sebenarnya pihak kedubes Arab Saudi di Jakarta sudah memberi kebijakan, namun dari pihak pemerintah arab Saudi tidak bisa di ubah. Biro perjalanan umrah ini harus menjalin antri dan kalau perlu menjalin mitra kerja dengan perusahaan provider yang memiliki jaminan bank dan persyaratan lainnya.

Selain dengan alasan banyaknya penyusup yang masuk, Pemerintah Arab Saudi juga memberikan syarat tambahan khusus visa umrah dimana pemberitahuan itu baru disampaikan beberapa hari sebelum keberangkatan kepada Pihak Biro Haji dn Umrah yaitu dengan mewajibkan lampiran tiket penerbangan pulang-pergi dan surat pengesahan muhrim yang dikeluarkan oleh Departemen Agama Islam. Para petugas Biro yang bertanggung jawab pada kepengurusan visa jamaah memburu deadline dan terkadang mengalami kesulitan saat melakukan entry visa hanya untuk sekedar mndapatkan nomor registrasi visa untuk di cetak dan ditempel di paspor jamaah. Tak jarang mereka menunggu di sampai dini hari hanya untuk mendapatkan kepastian jumlah visa jamaah yang telah disetujui.

Brakk !! :( Tidak hanya Jamaah Umrah Indonesia, pihak jasa maskapai penerbangan dan biro perjalanan Haji Umrah ikut menanggung kerugian dikarenakan jauh hari sebelumnya, mereka sudah memesan tiket pesawat dan kamar hotel. Entahlah, Apa sebab musabab hingga pemerintah arab Saudi mengeluarkan kebijakan terkhusus untuk calon jamaah Umrah dan Haji yang mungkin akan berlangsung sampai musim haji 2010 ini.

Yang patut di sesalkan adalah kemana campur tangan para pihak pemerintah yang selama ini bertanggung jawab atas pemberangkatan jamaah haji dan umrah dalam menyikapi kebijakan pemerintah Arab Saudi ini? Apakah mereka sangat sibuk sehingga lupa mencari solusi akibat keterlambatan kepengurusan visa tersebut? Atau minimal ada upaya pembicaraan pembicaraan yang berujung pada tindak lanjut sehingga keterlambatan penerbitan visa tidak sampai mengakibatkan tertundanya pemberangkatan. Yupzzz, para calon jamaah. Kini kembali dihadapkan pada masalah keterlambatan pemberangkatan akibat VISA yang MOLOR

Rupanya ada isyu monopoli dari Kedubes Arab Saudi di Jakarta agar jamaah yang akan berangkat umrah harus mempergunakan maskapai penerbangan tertentu yang sudah di-protect dan menjadi persyaratan pengurusan visa ini. Ini mungkin yang menjadi penyebab keterlambatan visa tersebut. Atau bisa juga kebijakan ini hanya di berlakukan khusus di beberapa negara asia tenggara seperti Indonesia dan Malaysia dimana banyaknya TKI yang bermasalah atau di permasalahkan selama bekerja disana. atau mungkin ada hal hal lain yang menjadi penyebab lahirnya kebijakan keterlambatan visa terkhusus untuk jamaah umrah Indonesia. Ya ya.. bisa jadi begitu.

Nah, akibat keterlambatan proses pencetakan visa dari Arab Saudi itu akhirnya juga mengakibatkan beberapa pihak terkait ikut terkena imbas. Sebagai calon jamaah pada saat itu, saya ikut merasakan perjuangan mereka dalam memperjuangkan keberangkatan kami. Mereka kembali mengurus segala kekurangan di sana sini dengan memberikan penjelasan seterang terangnya dgn tetap memberikan keyakinan kepastian pemberangkatan.. Tak hanya pihak biro Perjalanan umrah Indonesia, perusahaan penerbangan pun dibuat ketar ketir. Mereka harus me re-schedule kembali seat penumpang dan kembali bernegosisasi dengan sejumlah biro penyelenggara umrah dan haji yang mau tak mau kembali jadwal pemberangkatan yang sudah disusun demi mengikuti kebijakan yang ada jika tak ingin terbang kosong melompong.

Semalam di Jakarte







Informasi itu pun akhirnya kami terima. Menurut pihak pengelola Biro, setelah kembali mengecek dan memperjuangkan nasib visa serta hasil lobi sana sini, akhirnya panitia dan jamaah harus mengalah dan berbesar hati terpaksa di tunda keesokan harinya karena visa jamaah rombongan kami belum terbit dari Kedubes Saudi di Jakarta. Ini sudah diluar rencana. Saya sendiri tak mengira. Sedianya dari makassar kami telah mempersiapkan diri untuk terbang sehari penuh kini harus merelakan diri untuk bermalam sejenak menunggu giliran pemberangkatan sambil menunggu hasil pengurusan visa.

Kembali pihak biro menunjukkan sikap profesionalisme nya dan bertanggung jawab atas perjalanan kami. Dari bandara akhrinya mereka membawa rombongan di giring menuju bus travel yang telah menunggu untuk seterusnya di bawa ke Hotel terdekat di Bandara. Segala biaya hidup selama sehari menjadi tanggungan biro dan sebagai bentuk kompensasi agar tak gundah mengira mengira dan menunggu pemberangkatan, dari pihak biro mengajak kami untuk berwisata keliling kota mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di Jakarta hingga malam tiba untuk segera tidur dan berangkat keesokan harinya.

Terkadang saya berpikir, bagaimana jika kami bernasib seperti mereka yang terpaksa menginap di bandara hanya lantaran ke tak profesionalan biro perjalanan yg akhirnya tak mau menambah kerugian atas imbas kebijakan ini. Terkatung katung tanpa ada kepastian menunggu waktu pemberangkatan. Tentunya di antara mereka ada yang malu atau bahkan cemas karena semakin lama berpisah dengan keluarga.. Semoga pemerintah Indonesia dalam kapasitasnya sebagai pengurus dan penyedia regulasi system pemberangkatan umrah dan haji tentunya harus memperhatikan lagi kenyamanan dan kemudahan dalam membantu mereka yang ingin menunaikan ibadah haji dan umrah .

***
The Road To Mecca.
Kebahagiaan dan kesan selama di Tanah suci sepertinya tidak cukup untuk di gambarkan dengan kata kata. Alhamdulillah, maha suci Allah:; saya bisa berkesempatan melihat Rumah Allah. Tak pernah terpikir bisa menginjak kota suci secepat ini. Semuanya berjalan begitu cepat. Selama sebelas hari di kota antara kota Jedah- Medinah al Munawawr & Kota Suci Mekah Al Munawarah, kami juga berkesempatan untuk bertamu di rumah suci Baitullah dan mengunjungi beberapa tempat bersejarah sarat nilai history mengenai sejarah perkembangan Islam. Berusaha meneladani jejak nabi di masa lalu dalam perjuangannya menyebarkan ajaran islam di Jazirah Arab











Back To Home
Sampai pada perjalanan pulang kembali ke tanah air, kami masih berbagi cerita dan pengalaman mulai dari proses pemberangkatan, saat di Jakarta dan suka duka dalam menjalankan ibadah Umrah. Rasa puas, bahagia dan bangga nampak terpancar dari para wajah jamaah anggota setelah melewati semua itu. Seiring Sore yang semakin merendah. Matahari memancarkan setengah pijar merahnya masuk menembus jendela pesawat sesaat sebelum kami mendarat di kota Jakarta.

Saya melongok keluar jendela, mencoba menikmati pemandangan indah kota jakarta. Mengingat kembali pengalaman sebelum pemberangkatan, Pengalaman Visa tersebut kembali melintas. Dada berdesir. Tiba tiba ketakutan itu muncul. Bagaimana jika pengalaman pemberangkatan itu juga terjadi pada orang tua kami? Bagaimana jika mereka juga mengalami kejadian yang sama dalam rombongan biro yang belum kami ketahui kinerja dan kredibilitas sepenuhnya? Saya tak bisa membayangkan wajah mereka yang semakin keriput dengan keterbatasan fisik dan tenaga harus tidur berhimpitan, menggelar karpet di emperan bandara akibat kelalaian Biro Haji yang tak bertanggung jawab.

Tidak ada yang disalahkan. Kami hanya berharap pemerintah semakin intens dalam meningkatkan lagi pelayanan di semua aspek terkait dalam proses pemberangkatan, masa pemondokan dan proses pemulangan jamaah ke tanah air dengan bercermin dari pengalaman yang sudah sudah. Sigap dalam mengatasi segala kemungkinan bisa terjadi karena kita tak tahu bahwa segalanya sesuatunya bisa saja terjadi.. Wallahu Alam bis’shawab ***

1 komentar:

Anonim mengatakan...

assalamualaikum daeng,,
perkenalkan saya peppy,,

setelah saya baca blog daeng, artikel "catatn perjalanan umroh"...boleh tau kah daeng,,,travel agen yg dipakai daeng apa ya?
mohon informasinya..

teimakasih,,
wassalam :)