Love Mom : Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Minggu, Februari 28, 2010 di Minggu, Februari 28, 2010


Ya ya.. Ini adalah Kado untuk merayakan Jurnalisme orang Biasa. Sekedar ikut mencicipi kue pembangunan layaknya masyarakat yang lain. Dan interpretasi diri tak salah jika diwujudkan dalam bentuk ungkapan kasih sayang kami terhadap ibu.

Pukul 07.10 Wita. Sedari pagi tadi, beliau sudah siap dengan seragam mengajarnya. Menurutnya, hari ini ada acara perpisahan disekolahan. Sembari mengetok pintu kamar, Beliau berkata ingin meminjam kamera saku yang sering saya gunakan untuk dibawa kesekolahya. Katanya ia ingin meminta bantuan salah satu teman guru disekolahnya untuk berfoto anak-anak muridnya.

Rupanya ini hari yang special bagi dirinya. Hari terakhirnya untuk memberi pelajaran kelas kepada muridnya. Tak ada kado special. Yang ada hanya ucapan selamat jalan dan salam mesra dari rekan sejawat dan guru sekolah serta beberapa bingkisan kado kenang kenangan dari tempat sekolahnya mengabdi. Jangan berharap menemukannya dalam jejeran parade buku biografi orang terkenal dideretan rak toko buku berisi pesan sponsor dan gelimangan kalimat beraksentuasi mewah berbungkus CV dan kisah "kepahlawanan" dalam meraih bintang bintang mahakarya. Pun dalam keseharian, polesan gincunya hanyalah sebatas pemanis dibibir untuk menutupi belah yang mulai keriput. Seorang Ibu bertubuh kecil yang kini siap mewakafkan diri untuk keluaga setelah hampir tigapuluh tahun lamanya mengabdi di sekolah Dasar Negeri. Tak pernah ada sasak tinggi pada gelungan rambutnya yang selalu bertutup kerudung. Juga tak terlihat parade bunga dan ucapan selamat yang menghiasi halaman depan rumah atau hampir sepertiga kolom utama di media massa. Sosoknya tak lebih dari seorang ibu yang hanya mewakili tipikal karakter sederhana pada zamannya

Kini... beliau sudah diambang senja. Bersiap memasuki masa purna bakti. Menuntaskan kewajibannya sebagai seorang guru SD dari sebuah Sekolah dasar kecil Negeri dikota Makassar. Siap memberikan tongkat estafet kepada generasi selanjutnya. Beliau mungkin juga sedikit beruntung, bisa terlahir tanpa beban nama besar dari keluarga yang mewarisi silsilah darah biru pahlawan dari Negeri Antah Berantah. Almarhum bapaknya hanyalah seorang pemecah batu dengan mengandalkan upah harian untuk menghidupi istri dan sembilan orang anaknya.

Penuh doa, kami berharap pintu selalu selalu mencurahkan limpahan kasih sayang, rezeki dan kesehatan untuknya dan keluarga. Tak ada kata post power syndrome. Yang ada hanyalah segempal doa berharap bisa juga menunaikan ibadah haji. Salah seorang anaknya yang pernah bersekolah di SD beliau, tentulah kini tak risau lagi karena sekarang ada pengantar sekolah baru untuk anaknya. Sang cucu kini dapat tertawa lepas melenggang bersama neneknya berjalan pagi menuju sekolah SD yang kini telah ia tinggalkan.

Dedicated for my Mom (GBU)

2 komentar:

Tengku.zaidy mengatakan...

menyentuh sekali,..ampe2 hampir meneteskan airmata

indobrad mengatakan...

kalau saat ini masih suasana hari ibu (di Amerika).

Sampaikan salam "Selamat Hari Ibu" buat beliau ya.

Salam kenal juga dari saya :D