The Swallow - Kepak Sayap kecil di Ujung Senja

Kamis, April 30, 2009 di Kamis, April 30, 2009

Sore mulai merendah. Lembayung senja di cakrawala sepertinya beradu dengan batas fatamorgana. Kilau percik air laut menyatu dengan kaki langit, melukiskan rona jingga dan merah di langit kota Sinjai. Udara sejuk menghampar turun sampai jauh menyusup ke rumah pemukiman penduduk nun jauh disana. Teh seduh yang di sediakan oleh tuan rumah juga sudah hampir habis. Sambil menyulut kreteknya, Fadjar mendongak kan kepala ke atas “Lihat, sudah ada beberapa kawanan menuju ke sini”.

Dipenuhi rasa penasaran, saya dan Pak Adi ikut melayangkan pandang ke langit lepas. “biasanya mereka terbang satu, dua atau berkelompok. Berkeliling keliling dulu sebelum masuk, terkadang bermain memutari rumah dan sarang, pohon dan pergi menghilang kemudian akhirnya datang kembali dari berbagai penjuru kota bersama kawanannya. Semakin gelap, kawanan tersebut biasanya semakin ramai. Satu atau dua ekor diantaranya langsung masuk ke sarang rumah” Sela Pak Sahabuddin, keluar dari dalam Rumah.

Sejak beberapa waktu lalu, pak Udin, Panggilan akrab salah satu rekan kantor kami membuat sarang burung wallet disamping rumahnya. Kontur tanah rumah yang berada diketinggian bukit serta udara yang terbuka diselingi suasana alam yang sejuk dan sedikit lembab membuat kawanan burung wallet menjadi suka untuk bergerombol, membuat sarang di rumah Pak Udin.







Orang orang sekitar rumah beliau menganggap Pak Udin cukup beruntung mendapatkan lokasi perumahan tepat berada daerah ketinggian kawasan bukit Gojeng – Kota Sinjai. Setelah lelah "berpusing pusing" keliling kota, sejenak bersantai di atas bukit saat sore menjelang sangatlah menyenangkan. Sambil melepas pandang sejauh mata memandang, yang nampak hanyalah "City View" dari ketinggian berlatar biru laut dengan gugusan pulau sembilan yang nampak menjulang tinggi.





Awalnya Pak Udin hanya membiarkan burung burung wallet bertengger di bawah atap rumahnya. Seiring waktu berlalu serta rasa ingin tahu yang tinggi setelah mendengar cerita dari beberapa orang tentang beberapa keunggulan dengan beternak burung wallet, akhirnya ia pun memutuskan untuk "mengorbankan" salah satu kamar dengan mempertinggi sekitar 5 Meter dari atap rumah. Pak Udin akhirnya membuat sarang burung dengan menyisihkan sebahagian dari penghasilannya untuk sekedar mencoba menjadi “peternak” burung Walet.







Pak Udin mengaku, ilmu beternak Wallet-nya di peroleh secara otodidak. “Yang penting ada kemauan dan usaha”, katanya. Untuk itu, beliau membeli beberapa buku tentang cara beternak Burung Walet sebagai referensi pengetahuan. Peternakan Walet nya ini baru seumur jagung. Sebagai pemain baru di kelasnya, terkadang pertama kali, terkadang beliau juga mengaku mengalami beberapa kendala kecil dalam hal menjalankan usaha peternakan Burung Walet.

Kini, setiap pagi dan sore selama kurang lebih 2,5 Jam, Pak Udin mempunyai rutinitas baru yakni menyalakan kaset berisi suuara Burung Walet dari radio stereo yang khusus dipasang di dinding masuk sarang. Menurut Pak Udin, Hal ini memang sengaja di lakukan untuk memancing burung wallet untuk segera masuk ke sarang sampai datangnya musim panen tiba. Trik ini beliau dapatkan dari buku beternak Walet yang dibelinya beberapa waktu lalu.

Seiring waktu, ia mengaku, setiap sorenya jumlah burung Walet yang terbang mengelilingi rumah dan hinggap masuk ke sarang semakin bertambah banyak. Pun, Jika dikemudian hari jika hasil usahanya tidak sesuai dengan yang di harapkan, Pak Udin akan tetap membiarkan burung burung wallet tersebut terbang bebas berkeliaran di sekitar rumahnya agar ekosistem tetap terjaga.

Parade Bunga Dari Bukit Selatan

Masih di atas bukit Gojeng, dirumah bapak Udin, meninggalkan hiruk pikuk aktifitas keseharian dengan meleburkan diri, sejenak berbagi waktu dengan alam desa, dan menambatkan hati pada semak udara di puncak bukit dalam suasana temaram sore merupakan salah satu bentuk relaksasi tersendiri bagi beberapa kawan termasuk saya sendiri..







Parade bunga di atas bukit bak sahabat pelipur lara. Setiap kuntum bunganya dapat mewakili sejuta perasaan bagi siapa saja yang ingin memilikinya. Di penghujung musim hujan di awal bulan Mei sekarang ini, beberapa bunga tropis khas bukit tampak tumbuh indah bermekaran. Seolah mengucapkan salam perkenalan bagi mereka yang ingin berkunjung dan berbagi cerita.

Yach, The Swallow dan bunga di bukit selatan sepertinya telah berhasil menggugah hati kami. Seolah mengumbar kembali nuansa romantisme keindahan dan kasih sayang. Mereka berlomba menunjukkan "keangkuhan" akan karunia keindahannya. dan akhirnya berhasil meruntuhkan hasrat kami untuk akhirnya berlarut larut sejenak di tempat ini.

(Foto2 pribadi sederhana ini di ambil dari kamera :Casio E-Xilim 7,2 MegaPixel)

Postingan terkait
Burung Layang layang
burung Walet

1 komentar:

annosmile mengatakan...

wah..
belum pernah masuk ke rumah yg ada sarang wallet
penasaran nih