Urang Awak Di Ranah Daeng

Sabtu, Februari 14, 2009 di Sabtu, Februari 14, 2009

Dalam zaman perkembangan Islam di Jazirah Sulawesi Selatan, tercatat beberapa ulama dari ranah minang yang berperan dalam memperjuangkan dan menyebarkan syiar Islam di Sulawesi selatan. Beberapa ulama termasyur tersebut adalah Datuk Ri Bandang, Datuk Sulaeman atau yang lebih dikenal dengan nama Datuk Patimang, serta Datuk Ditiro.

Sampai sekarang, sepak terjang, buah pikiran dan perjalanan dakwah mereka masih menjadi inspirasi dan suri tauladan bagi para generasi penerus. Corak dan sumbangsih pemikiran mereka masih sering menjadi landasan serta panutan dalam pengamalan ilmu ilmu agama untuk kemaslahatan masyarakat.

Terkadang apresiasi, rasa kekaguman, ikatan emosional dan bentuk penghargaan terhadap ulama dari ranah Minang tersebut tidak hanya dalam bentuk mencontoh perilaku dan pengamalan ilmu, tetapi juga wujudkan dalam bentuk ornamen Simbolis rumah gadang pada beberapa bangunan rumah tempat tinggal atau kantor organisasi keagamaan untuk mengenang napak tilas perjuangan dari ketiga srikandi ulama dari Minang tersebut.

Nah, Salah satu gedung bercorak budaya Sumatera barat yang dapat kita jumpai di Kota Makasar adalah Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah-Sulawesi Selatan yang berada di Jalan Perintis Kemerdekaan atau sebelah Timur dari Pusat kota Makasar.


Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah adalah salah satu gedung yang berfungsi sebagai pusat dari kegiatan salah satu Ormas Islam terbesar di Indonesia Cabang Sulawesi Selatan. Sebuah Gedung yang pembangunan sudah dimulai sejak tahun 1996. Luas gedungnya adalah 50 x 15 meter ditambah serambi depan dengan luas 10 x 5 meter. Gedung ini direncanakan 3 lantai: Lantai pertama untuk kepentingan organisasi Muhammadiyah Sulsel berupa ruangan pengurus dan tempat kegiatan organisasi. Lantai satu juga dilengkapi dengan klinik umum yang akan melayani masyarakat di bidang kesehatan dengan ahli spesialis kesehatan serta layanan Koperasi Surya Sejahtera yang sekarang sudah beroperasi. Sebenarnya, lantai dua yang masih dalam tahap finishing. Rencananya berfungsi menampung kegiatan Muhammadiyah sehingga lantai satu sepenuhnya hanya akan digunakan sebagai klinik kesehatan. Lantai tiga rencananya akan dijadikan sebuah aula pertemuan.

Beberapa waktu lalu, saya sempat bertemu dengan Bapak Haji Haddist, bendahara pusat lembaga dakwah Muhammadiyah. Dari beliau, saya mendapat beberapa informasi yang mengatakan bahwa tanah tempat gedung ini dibangun di atas tanah wakaf milik Bapak Mustamin Daeng Mattutu, seorang pria yang berasal dari Kab. Bulukumba yang sekarang menetap tidak jauh dari Gedung Pusat Dakwah. Di usianya yang sudah menginjak umur 84 tahun, Mustamin Daeng Mattutu kini sudah sering sakit-sakitan dan tidak bisa lagi berjalan-jalan keluar rumah. Sekarang, anak-anaknya lah yang dengan telaten memperhatikan dan merawat kondisi kesehatan sang ayah.


Menurut Pak Haji Haddist, sewaktu Pak Mustamin berniat mewakafkan tanahnya, ia sempat mengamanahkan agar kiranya, gedung yang akan dibangun diatas tanah wakaf ini nantinya akan berarsitektur Sumatera Barat. Hal itu tidak lain dikarenakan oleh kekaguman dan sikap dan watak beliau yang memang dipengaruhi oleh tokoh penyebar Islam dari Sumatera Barat yang banyak meletakkan dasar dasar pengajaran agama Islam kepada masyarakat di daerah ini.

Pak Kyai dan Daeng Naba

Jika di era tahun 1940 – 1980-an, Indonesia pernah mempunyai seorang sosok ulama, cendikiawan muslim dan sastrawan hebat yang berasal dari ranah Minang. Ulama termasyur itu bernama Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan nama Prof. Buya Hamka.

Entah karena kebetulan atau tidak, Sosok ulama kharismatik dari Makassar ini juga berasal dari ranah Minang. Ulama Tersebut Bernama KH. Bakri Wahid. Dengan tidak bermaksud untuk mensejajarkan atau melebih lebihkan beliau dengan Alm. Prof Buya Hamka, Mereka berdua mempunyai kesamaan yaitu tokoh Ulama berdarah Minang yang patut di teladani di lingkup dan zamannya masing masing.

Di lingkup Sulawesi Selatan sendiri, nama Pak Kiai Bakry Wahid sudah tidak asing lagi. Sejak pertama kali menjejakkan kaki di ranah daeng sekitar tahun 1954, Pak Kiai Bakry memutuskan untuk menjadi perantau di ranah daeng dengan menganggap bahwa inilah bahagian dari usaha perjalanan hidupnya untuk menyampaikan dakwah. Ulama Kyai Bakry Wahid pun memulai dakwahnya dengan mengabdi menjadi Guru agama di sebuah SMP Islam di daerah Taman roya – Kab. Jeneponto-Sulawesi Selatan.

Seiring waktu, beliau menjalani karir dan akhirnya menjadi Kepala kantor penerangan agama kotamadya ujung pandang sekitar tahun 1964. Perhatiannya yang sangat besar terhadap dakwah Islamiyah membawa perjalanan hidup seorang perantau bernama Kyai haji Bakrie Wahid menjadi seorang seorang sosok Ulama yang kharismatik dan hingga kini dikagumi dan di cintai oleh masyarakat di kota makassar dan sekitarnya.


Tak kenal maka tak Sayang. Di Era tahun 90-an, Suara Pak Kiai sangat akrab di telinga pendengar Radio RRI Nusantara IV Makassar dalam acara dialog agama “Pak Kiai dan daeng Naba” yang disiarkan setiap harinya waktu sahur di bulan Ramadhan. Secara rutin acara ini mengajak pendengar untuk berbagi masalah mengenai agama.

Bersama almarhum Drs. Syamsu Marlin, Setiap tahunnya di bulan puasa, beliau rutin menyapa pendengarnya di gelombang RRI Nusantara IV Makasar . Dialog dialog yang mengalir segar dan ringan tapi berbobot membuat acara ini menempati rating yang cukup tinggi di hati pendengar. Nama “Pak Kyai” bagi sosok KH. Bakry Wahid pun kian melekat dan secara tidak langsung telah mempopulerkan dirinya dalam pentas dakwah lingkup masyarakat Makassar.

Selain menyapa pendengarnya di siaran udara RRI Nusantara IV Makasar, pak Kiai juga rutin memberikan materi ceramah agama di berbagai tempat, mesjid, kantor pemerintah, undangan resmi dan perorangan serta kelompok pengajian dan di berbagai majelis taklim.

Tampil dengan sosok bersahaja dengan balutan sederhana, materi dakwah sang Kiai biasanya lebih banyak menyentuh soal akidah dah permasalahan konstektual yang terkadang bagi sebahagian masyarakat kita masih dinilai ringan. Dalam setiap khutbahnya, Pak Kiai selalu membahas secara tuntas hal-hal yang terkadang dianggap sepele dan mungkin masih sering terjadi dalam masyarakat kita, tanpa sadar telah menjadi kebiasaan kita sewaktu menjalankan kewajiban kita sebagai muslim seperti cara berwudhu yang benar, zakat yang sesuai dan lain lain. Materinya ringan tapi sangat berbobot dan mendetail. Pak Kiai selalu menyampaikannya dengan gaya bahasa yang membumi dengan selalu merujuk kembali kepada Al-quran dan hadist.


Tema-tema mendasar inilah yang sebenarnya di butuhkan dan sangat di butuhkan oleh masyarakat karena selain merupakan hal yang sangat mendasar, materi yang disampaikan juga mudah di serap, dikemas dalam penyajian yang moderat dengan sesekali di selingi guyonan. Tak jarang di setiap akhir materi ceramah, dan berhubung keterbatasan waktu, acapkali pak Kiai “mendesain” materi dakwahnya sehingga layaknya bersambung ke episode atau pertemuan berikutnya. Tentunya hal ini membuat pendengar tetap tertarik untuk terus mengikuti lanjutan ceramah dari pak Kiai.

Kampuang Nun Jauh di Mato

Kultur dan darah Minangkabau tetap mengalir deras dalam dirinya. Meski telah berpuluh puluh tahun menetap di Kota Makassar, tidak membuat Seorang Bakri Wahid lupa pada Tanah kelahiran di ranah Minang.. Hampir disetiap kesempatan, jika memungkinkan, beliau menyempatkan diri untuk mudik ke kampong halaman, baik secara perseorangan, keluarga dan anggota majelis Taklim Asuhannya. Beliau juga aktif bersilaturahmi dengan kerukunan keluarga Sapayuang – komunitas warga Sumatera barat yang ada di kota Makassar.

Pak Kyai Bakri Wahid merupakan sosok ulama yang “unik” pada masanya dan hingga kini. Beliau adalah seorang figure ulama yang tidak hanya mampu berbicara secara retorik secara sederhana dan mendokumentasikan sejumlah gagasan gagasannya dalam bentuk brosur tertulis untuk kegiatan mesjid dan majelis dengan selalu bersandar pada quran dan hadist sehingga mudah di pahami. Kemampuan Pak Kiai dalam memadukan artikulasi, dokumentasi dan organisasi berbalut kesederhanaan dengan suguhan materi dakwah yang ringan tapi berbobot menyiratkan kedalaman ilmu terkadang mengundang decak kagum bagi para pendengar.


Kini, di usianya yang sudah menginjak umur 78 tahun, KH. Bakry Wahid masih tetap aktif melakukan perjalanan memenuhi panggilan dakwah di berbagai tempat dan daerah di Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Selain Berdakwah, beliau juga aktif mengelola berbagai majelis taklim, melakukan pengajian rutin dan membina yayasan majelis taklim dekat rumahnya untuk acara pengajian dan pengkaderan regenerasi. Terkadang, beliau masih mampu membawa mobil sendiri jika kebetulan ada menghadiri undangan dakwah di sekitar rumahnya. Dakwah telah menjadi panggilan jiwanya. Meski aktif berorganisasi, sampai sekarang beliau belum tertarik untuk ikut terjun ke panggung politik. Jika ada waktu senggang, Pak Kiai menyempatkan diri untuk berolah raga renang di laut, badminton dan jalan pagi shubuh di sekitar rumah untuk menjaga kondisi tubuh.

Sumber Riwayat:
Buku Ulama Kesayangan Umat, Sebuah Sketsa Perjalanan dakwah
Penerbit Cakrisma dan esatek bekerjasama Yayasan Majelis Kajian Islam (Makin Islah) Tahun 2007

Tulisan ini juga di muat di Panyingkul- Jurnalisme Orang Biasa

2 komentar:

Ipul mengatakan...

pak Kiai..
tokoh legendaris di Sulawesi Selatan.
periode 70-an sampe akhir 80-an, siapa sih yang tidak pernah dengar pak Kiai kalo bangun sahur..?
di masa2 itu, kalo ketemu langsung sama beliau rasanya bangga sekali..

aura beliau memang kuat. kalo ceramah, memang terasa sekali kekuatan aura itu..salut sama beliau..

anggun indah mengatakan...

:)