Hari ini kita catatan sejarah

Rabu, Juli 09, 2014 di Rabu, Juli 09, 2014

Happy 2Nd wedding Anniversary- sebuah postingan telat sehari

Selasa, Juli 01, 2014 di Selasa, Juli 01, 2014

Imunisasi : Usia Emir dah 4 bulan

Selasa, Mei 20, 2014 di Selasa, Mei 20, 2014

Happy 3Month Emir boy

Minggu, April 20, 2014 di Minggu, April 20, 2014

Dari Semangkuk Mie Aceh, aku melanglang ke Negeri Tanah Rencong

Rabu, Maret 26, 2014 di Rabu, Maret 26, 2014

Tulisan ini di ikutkan di lomba blog charming Aceh 2014

 Banner Lomba Aceh 2014

Akhirnya jadi juga disiang itu saya bisa menikmati semangkuk Mie Aceh di sebuah warung di bilangan jalan Lanto daeng Pasewang, jantung kota Kab. Maros yg jaraknya sekitar 30 km dari kota Makassar,  ibukota propinsi Sulawesi Selatan. 

Sejatinya, saya lahir dan besar serta menetap di Makassar. Kesibukan sehari hari nya beraktifitas di sebuah perbankan daerah di Maros yg tentunya rutinitas ini menuntut untuk akhirnya hanya dpt dihitung jari bisa berada diluar ruangan sampai waktu pulang tiba sehingga tuk mencari waktu sekedar mencicipi beragam menu kuliner di kota Mks pun otomatis harus berpindah hanya  ke hari libur atau Week End saja. Sebagai kota ke empat terbesar di Indonesia, Makassar tak luput dari serbuan berbagai kuliner dari   33 propinsi dari penjuru nusantara. Salah satu kuliner tersebut adalah Mie Aceh.

Tak bisa dipungkiri, saya sangat gemar makan mie. Mulai dari mie instant, resto sampai mie ala pinggir jalan. dibuat dalam bentuk spaggheti ato sekedar isi dari gorengan lumpia buatan dalam negeri juga its oke. Mungkin awal sukanya bermula saat masih kost kost an dulu entahlah saya juga sudah lupa. Makanya begitu mendengar tentang mie aceh, saya langsung tertarik mendengarkan cerita  mengenai uniknya kelezatan mie aceh dari teman kantor yang baru pulang berliburan kesana. Sebenarnya mie aceh ini bisa dibilang tak asing lagi di kota Makassar. kalo tak salah ada dua titik tempat deretan beragam menu kuliner lainnya. yaitu di jalan pengayoman tepat di samping toko Alaska dan juga di samping fly over Mks. Itupun sekali waktu saya hanya melintasi saja tanpa singgah untuk sekedar mencicipi cita rasa khas mie aceh.

Saya memang belum pernah berkunjung ke Nanggroe Aceh Darussalam. Pengetahuan tentang apa dan bagaimana propinsi Aceh pun hanya didapatkan melalui referensi buku sejarah saat sekolah dan CD film Cut Nyak Dhien karya Teguh karya di You Tube. Kadang sekali waktu terbersit pengen juga sieh sekali waktu berkesempatan bisa melihat langsung ke elokan budaya istiadat dan kuliner nya. Sejauh ini Aceh dimata saya adalah satu dari tempat eksotis di Indonesia  yang wajib untuk di kunjungi. Ketertarikan saya terhadap kuliner Aceh pun semakin bertambah mengingat makanan ini rupanya juga sudah hadir di kota kabupaten tempat saya bekerja yaitu Kab. Maros. 

***
Siang terasa menyengat. Saat jam istirahat kerja, saya menyusuri jalan raya kota Maros dengan mengendarai motor. dari niat awal ingin menyantap hidangan coto mks ala Maros, akhirnya motor justru berbelok ke arah jalan lanto dimana bangunan warung mie aceh berada.

Suasana tampak lengang. Lepas waktu sholat Dhuhur untuk wilayah Maros seperti ini biasanya membuat sebahagian warga malas beranjak keluar rumah. Sedikit ragu, akhirnya saya melangkahkan kaki memasuki Warung Mi Tanah Rencong Maros.

Cukup mudah menemukan tempat ini. Dari pusat kota Maros tepatnya di depan kantor Bupati Maros jalan jenderal sudirman, kita bisa terus mengikuti jalan sekitar 700 meter melewati jembatan kembar sebelah kanan hingga sampai di perempatan bundaran Tugu kota Maros dan berbelok ke arah kiri di jalan lanto daeng pasewang. Banner warung mie aceh ini langsung terlihat persis berada tepat di kantor DPRD Maros.

Tampak dua lelaki dipojok meja disana sedang bercakap cakap. Seorang dari mereka bangkit dan tersenyum serta menanyakan 'Mau makan apa pak?'. Saya kemudian ikut bergabung di meja mereka sambil berucap ' tolong saya dibuatkan semangkuk mi aceh yang paling khas'. Lelaki itu pun kemudian ke depan mempersiapkan gorengan yang belakangan saya ketahui bernama Yus dan lelaki satunya lagi masuk ke dapur mempersiapkan piring dan bumbu

.

Akhirnya Mie Aceh pun terhidang di depan mata. Penasaran saya terjawab sudah. Woww, rupanya seperti ini ya bentuknya. Mie nya terlihat besar dgn siraman ramuan rempah khas yang kental. Bang Yus pun ikut nimbrung duduk disamping saya sambil menawarkan minuman tehh botol. Menurut Bang Yus, dia sengaja membuat mie aceh dgn campuran daging karena kebetulan udangnya lagi habis. 

Akhirnya saya pun menyantap mi aceh ini sambil sesekali mengajak bang Yus bercakap cakap. Iseng saya pun menanyakan ' bang, kok jauh banget jualan Mie nya?. Sambil tersenyum Bang Yus pun mengawali kisahnya bahwa sebenarnya ia juga baru di Kab. Maros. Sebelum sebelumnya ia ikut menumpang di rumah kakak iparnya didaerah Sudiang. Selepas SMA, ia ikut merantau bersama kakaknya yang menikah dgn org Mks yg kebetulan pindah tugas dari Aceh kembali ke tanah kelahirannya. 


Hmmm yummi, tuntas sudah dahaga saya bisa merasakan enaknya mi Aceh ini.  Hidangan mie aceh memang menggugah selera.Dengan sajian campuran citarasa jintan, sangrai, bawang dan ditumis dengan kuah yang padat serta dapat disajikan dengan campuran daging, udang apa saja. Cara masaknya juga dengan sedikit tambahan kaldu dan disajikan bersama mentimun dan kerupuk. dapat disajikan panas lebih baik. Jadilah siang itu kami ngobrol ngalor ngidul tentang apa saja. dari perkenalan yg singkat, bang yus cukup membuat suasana menjadi hangat dan cair. kesempatan itupun aku manfaatkan tuk menebus rasa penasaranku,  bertanya tentang apa saja mengenai Aceh yang ia ketahui.
  1. Pertanyaan pertamaku mengenai pesawat Seulawah, menurut bang Yus, pesawat ini sebenarnya bisa dilihat pada saat kita berkunjung ke banda aceh. Pesawat pertama indonesia bersejarah ini dibuat replikanya di dekat lapangan depan rumah jabatan pangdam aceh yg letaknya tak jauh dari Mesjid Baiturrahman Banda Aceh yang tersohor itu. Pesawat aslinya justru kalo tidak salah bisa dilihat di depan rumah adat aceh di kawasan Taman Mini Indonesia Indah. Kenapa harus ditaman mini? Bang yus hanya menggeleng tak tau. Ia hanya tau bahwa sumbangan sebahagian emas untuk monas hasil donasi dari salah satu pengusaha kaya aceh saat itu.
  2. Rata rata masakan aceh itu kental dan tak berkuah. Bang yus juga menyebutkan kalo di daerah tempat tinggal di sekitar Aceh Timur katanya ada pisang yg disebut pisang Sale yg merupakan sentra dari pisang khas Aceh. Dimana Pisang ini digoreng dari tepung dan sering di sajikan saat acara acara daerah dan juga sebagai oleh oleh khas aceh.
  3. Aceh pasca tsunami menjadi lebih terbuka. Perhatian masyarakat dunia dan Indonesia pada khususnya tercurah ke negeri rencong ini. Dahulu orang non muslim bahkan bule segan tuk berkunjung ke Aceh mengingat aceh sangat ketat dalam hal syariat islam. dalam gambaran mereka, Aceh adalah tempat yg kurang terbuka bagi mereka yg ingin melancong. ditambah lagi dengan maraknya gerakan aceh merdeka serta maraknya ladang ganja yang ditemukan membuat citra aceh menjadi sedikit 'aneh' dimata para beberapa pelancong domestik dan intenational. 
  4. Aceh tak bisa dilepaskan dari sejarah bangsa Indonesia. Setelah sempat menjadi ibu kota negara beberapa waktu, budaya islam yg kental turut mendominasi perkembangan islam Aceh dan menyebar hingga kedaerah seantero nusantara. Tokoh heroik Aceh seperti Cut Nyak Dhien, Teuku Umar, Cut Meutia bahkan sempat diabadikan dalam bentuk mata uang indonesia yang beredar di era tahun 1990 an.

Pertemuan siang yang singkat tapi sangat bermakna saat itu. Penuh takjub saya mendengar kisah segelintir cerita dari bang Yus mengenai gambaran umum karakteristik dan hal menarik tentang Aceh siang ini hingga tak terasa jarum jam sudah menunjukkan waktu dimana saya harus segera kembali dari kantor. setelah membayar makanan dan pamit ke bang Yus, saya pun meninggalkan warung mie aceh sederhana ini dengan segudang cerita inspiratif dikepala

Propinsi Aceh nan eksotis. Saya malah membayangkan sebuah petualangan yg seru jika nantinya bisa juga berkesempatan berlibur kesana. Hanya menunggu waktu dan kesempatan yg tepat. Banyak ragam yang bisa kita jumpai disana. Seperti cita rasa mie aceh yang melekat kuat, banyak hal bisa kita ambil dari sana mulai dari kisah kepahlawanan, budaya dan istiadat tari saman yang sudah melanglang buana hingga kepelosok dunia, berbagai museum peninggalan sebagai ranah pembelajaran masa lampau. ragam kuliner nan menggoda, alam yang masih lestari dan menyimpan cerita tentang kandungan alam rempah rempah yg melimpah, Khasanah budaya Islami yang tetap terjaga, serta cerita inspiratif lain yang membuatku tak ada alasan lagi tuk tak menginjakkan kaki di negeri tanah rencong suatu saat nanti.  Arggghhhh....