Tegar; mereka yang selalu tegar di jalanan

Senin, Mei 06, 2013 di Senin, Mei 06, 2013


Tegar, adalah satu dari ratusan anak pengamen yang betebaran di jalan jalan raya negeri ini. Pengamen yang sudah menjadi pemandangan sehari hari kita baik itu dijalan raya, warung makan, stasiun bus bahkan di kuliner pinggir jalan. 

Benua Biru: mengintip Jendela Dunia

Jumat, Mei 03, 2013 di Jumat, Mei 03, 2013


I See trees of green, red roses too
I See them bloom, for me and you

I See skies of blue, and clouds of white
The bright blessed day, the dark say good night

The colour of the rainbow, so pretty in the sky
Are also on the faces, of people going by
I see friends shaking hands,  sayin” how do you do?’
They’re really sayin ‘I love you

I hear babies crying, I watch them grow
They’ll learn much more, than I’ll ever know
And I think to myself, what a wonderful world
(Louis Armstrong)


Resensi Buku - Surat Dahlan

Senin, Maret 18, 2013 di Senin, Maret 18, 2013


No : 303
Judul : Surat Dahlan

Penulis : Khrisna Pabichara

Penerbit : Noura Books

Cetakan : I, Januari 2013

Tebal : 396 hlm

Surat Dahlan  merupakan sekuel dari Sepatu Dahlan yang merupakan novelisasi kehidupan Dahlan Iskan (meneg BUMN) yang hingga saat namanya mulai diperhitungkan untuk masuk dalam bursa calon Presiden 2014. Data Poiticawave bahkan menyatakan bahwa, posisi Dahlan mampu mengungguli kandidat capres lain. Seperti Mahfud MD, Chairul Tanjung, Jusuf Kalla, Prabowo, Aburizal Bakrie, Hatta Rajasa, Wiranto dan Gita Wiryawan.




Semenjak namanya semakin dikenal publik setelah menjadi direktur PLN dan Menteri BUMN banyak sudah buku-buku tentangnya ditulis dari berbagai sudut pandang dan penggalan peristiwa yang dialami Dahlan Iskan. Diantara puluhan buku-buku tentangnya yang mencuri perhatian publik adalah novelisasi kehidupan Dahlan Iskan karya Khrisna Pabichara yang mencoba menovelkan sejarah kehidupan Dahlan Iskan semenjak kecil hingga sekarang yang terbagi kedalam 3 buah novel berseri (Sepatu Dahlan, Surat Dahlan, dan Senyum Dahlan)

Jika Sepatu Dahlan mengisahkan kehidupan Dahlan Iskan kecil hingga SMA, maka di Surat Dahlan kita akan membaca bagaimana Dahlan Iskan mencari jati dirinya, kisah cintanya, dan masa-masa kuliahnya di Samarinda hingga menjadi wartawan dan dipercaya mengelola koran Jawa Pos di Surabaya.

Sama seperti dalam novel Sepatu Dahlan, dalam novel keduanya ini penulis membuka kisahnya dengan prolog saat Dahlan Iskan berjuang mempertahankan hidupnya saat akan dan setelah melakukan operasi transplatasi hati di Tianjin First Center Hospital, China pada tahun 2007 yang lalu. Jika dalam Sepatu Dahlan kisah dibuka saat  ia akan dioperasi maka di novel keduanya ini prolognya dibuka saat Dahlan Iskan baru saja menjalani operasi.

Saat-saat antara sadar dan tidak sadar itulah ingatan Dahlan Iskan kembali ke masa lampau saat dirinya menjalani masa-masa kuliah di Samarinda. Bisa dikatakan masa-masa itu adalah masa galau bagi kehidupan mudanya. Selain galau dengan kisah cintanya, Dahlan juga galau akan kuliah dan masa depannya. Ia mulai jenuh dengan kuliahnya karena teori-teori kehidupan yang dijejalkan ke kepalanya sering amat berjauhan dengan kenyataan hidup, belum lagi ditambah dengan sikap salah satu dosennya yang otoriter sehingga ia sampai pada suatu titik untuk menentukan apakah ia akan menuntaskan kuliahnya atau berhenti kuliah dan bekerja.

Alih-alih mengikuti kuliah, Dahlan lebih senang bergabung dengan kawan-kawannya di sebuah organisasi kemahasiswaan Persatuan Islam Indonesia (PII). Bagi Dahlan kegiatan di PII terasa lebih dinamis dibanding kuliahnya yang biasa-biasa saja. Akhirnya Dahlan memutuskan berhenti kuliah dan memilih aktif dalam berbagai kegiatan yang diadakan PII. Hal ini kelak akan menyeretnya pada Peristiwa Malapetaka Lima Januari (Malari). Bersama teman-temannya Dahlan melakukan demonstrasi di berbagai lokasi di Samarinda. Ketika situasi semakin memanas dan pemerintah semakin represif, Dahlan dan kawan-kawannya dituduh hendak melakukan makar dan merekapun menjadi buronan pemerintah.

Setelah melalui masa-masa sulit dalam pelariannya dan  ketika situasi nasional kembali normal, Dahlan akhirnya menemukan cintanya. Cinta pada seorang wanita yang kelak akan menjadi istrinya dan cintanya pada dunia baru yang menjadi awal perjuangannya mencapai kesuksesan, yaitu dunia surat kabar.

Seperti novel Sepatu Dahlan, novel inipun  mencoba menginspirasi pembacanya melalui kehidupan masa muda Dahlan Iskan. Dengan menarik penulis merangkai kisah masa muda Dahlan baik itu romatika kisah cintanya dengan tiga wanita, hiruk pikuk dan menegangkannya demonstrasi mahasiswa di tahun 70-an hingga bagaimana Dahlan meniti karirnya mulai dari menjadi wartawan sebuah koran lokal di Samarinda hingga akhirnya dipercaya mengelola sebuah koran besar di Surabaya yang saat itu nyaris bangkrut dan ditinggalkan pembacanya.

 Dahlan Iskan dan Krisna Pabichara 
(penulis Trologi Novel Dahlan Iskan)



Jika dibandingkan dengan sepatu Dahlan, novel ini sepertinya kalah menggugah dibanding Sepatu Dahlan. Kesulitan hidup yang dialami Dahlan kecil lebih isnpriratif dan menggugah dibanding novel sekuelnya ini. Peristiwa demo dan masa-masa pelarian Dahlan dan kawan-kawannya dari kejaran aparat adalah bagian yang menarik sayangnya ketika situasi sudah aman dan Dahlan bisa kembali ke rumah kakaknya penulis tidak mengisahkan lebih lanjut bagaimana trauma atau dampak psikologis Dahlan dan teman-temannya sebagai mantan pelarian yang dituduh akan melakukan makar,  semua berlalu begitu saja padahal kalau bagian ini dieksplorasi lebih dalam lagi tentunya novel ini akan semakin menarik.

Selain itu bagian yang juga menarik adalah ketika Dahlan meniti karir sebagai wartawan. Lewat pengalaman Dahlan kita akan melihat bahwa mencari berita agar bisa dimuat tidaklah mudah, walau saat itu Dahlan adalah kontributor resmi sebuah media namun itu semua tidak menjamin bahwa apa yang ditulisnya akan dimua  karena selain harus bersaing dengan kontributor lainnya semua berita yang masuk akan diseleksi oleh redaktur senior. 

Di bagian ini juga kita akan mengetahui rintisan karir Dahlan yang tadinya hanya seorang wartawan di harian lokal kecil akhirnya bergabung dengan majalah Tempo. Juga akan terungkap bahwa ketika Dahlan telah bekerja di majalah Tempo, Tempo membeli Jawa Pos yang saat itu sudah hampir bangkrut. Menarik karena mungkin banyak dari kita yang tidak mengetahui bagaimana proses pengambilalihan manajemen Jawa Pos ke Majalah Tempo dan  peran Dahlan dalam proses tersebut.

Dari segi pengisahan seperti novel sebelumnya, novel ini ditulis dengan kalimat sederhana, enak dibaca tanpa mengurangi keindahan sastrawinya sehingga novel ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Ending dari novel ini cukup menggugah dimana  terjadi reuni kecil antara keluarga Dahlan dan ayahnya lengkap dengan nasihat-nasehat bijak dan isnpiratif dari sang ayah yang bersahaja.

Sebagai sebuah novelisasi kehidupan Dahlan Iskan tampaknya  novel ini bisa mewakili latar belakang apa yang  membuat Dahlan Iskan menjadi seperti sekarang. Kisah kehdiupan Dahlan belum berakhir di novel ini karena masih ada satu judul lagi yang tersisa yaitu "Senyum Dahlan" dimana akan mengisahkan kehidupan Dahlan setelah dipercaya mengelola dan  menjadi orang nomor satu harian Jawa Pos hingga menjadi menteri.  

Akankah Surat Dahlan dan Senyum Dahlan diapresiasi oleh pembacanya dengan baik seperti Novel Sepatu Dahlan (Juni 2012)  yang diberi label mega best seller karena telah terjual lebih dari 100.000 buku dan hingga saat ini sudah mencapai 8 kali cetakan?

 Kita lihat saja, namun bukan angka penjualan yang utama melainkan apakah novel ini mampu menginspirasi pembacanya? Tentunya harapan kita sama seperti yang dikatakan Dahlan Iskan saat menghadiri peluncuran buku ini beberapa waktu yang lalu,

"Semoga (novel ini) bisa menularkan semangat-semangat positif khususnya bagi generasi-generasi muda yang akan melanjutakan kehidupan bangsa ini"  ~ Dahlan Iskan / Buku yg Kubaca

Wajahnya tak seelok Kupu Kupu

Sabtu, Februari 23, 2013 di Sabtu, Februari 23, 2013

Desa Parang Tinggia -Kab. Maros
Sambil menunjuk rerimbunan pohon Jatia, Daeng Ngesa mengatakan, nantilah saat menjelang magrib tiba, barulah terdengar suara berirama khas ratusan kepak yang berhamburan keluar. Menawarkan pemandangan langit yang cukup memukau. Beberapa diantaranya terbang melewati jendela samping rumah panggung.

Melewati Jembatan Batu Bassi, Aspal desa mengantarkan untuk sampai ke desa Parang Tinggia, kelurahan Jenetaesa, Kec Simbang Kabupaten Maros. Sehabis hujan tadi, debu berganti aroma tanah dan suasana desa. Orang disekitarnya lebih mengenal daerah itu dengan sebutan batu bassi atau (Batu Besi). Pangkalan Ojek yang kebetulan mangkal di tepi jembatan tentunya akan sumrigah jika anda menawarinya untuk di antar masuk sampai ke ujung desa.

Dibanding pesona Air Terjun Bantimurung dan Kingdom of Butterfly-nya, kawasan Batu Bassie berkesan masih jauh dari popularitas. Sayangnya, orang orang lebih tertarik untuk mengunjungi Bantimurung yang fenomenal sebagai ikon kota. Atau entah karena lokasi yang sedikit menjorok ke dalam hingga masih sedikit yang mengetahui keberadaan koloni kalelawar ataukah bisa jadi promosi wisata yang kurang mendengung bahkan nyaris belum tersentuh.

Dari paladang (beranda) rumah panggung Dg Ngesa, suasana cukup santai dengan suguhan kue ala kadarnya. Lewat penuturannya, ia pun bercerita mengenai sosok Qamaruddin dewata, lelaki yang membawa lima ekor kalelawar untuk dipelihara dirumahnya. Beliau sendiri kurang mengetahui persis alasan mengapa sampai Ayahnya berniat untuk memelihara kalelewar. Awalnya “tikus bersayap” itu hanya di taruh di pohon depan rumahnya. Hingga kini, koloni tersebut telah mendiami lingkungan rumahnya hingga belasan tahun dan diperkirakan populasinya telah mencapai ratusan ekor. Mereka hidup berkelompok di beberapa pohon perdu dan bambu yang berada di kebun sekitar rumah bahkan sampai di pucuk pohon tetangga di depan rumah.

Daeng Ngesa menambahkan, penduduk desanya sudah terbiasa dengan kehadiran mahluk penghisap darah itu. Mereka tidak pernah merasa terganggu apalagi mempermasalahkan suara cicitan kalelawar yang datang dan pergi kala senja berganti. Malah secara kontinyu, daeng ngesa mengaku terbantu untuk dapat bangun lebih awal, melaksanakan kewajiban sholat Shubuh karena suara bising dari puluhan kalelawar yang kembali idur bergelantungan di sarangnya. Sepertinya penduduk desa tidak berharap banyak dengan kehadiran koloni hewan ini. Jika kebetulan ada orang luar yang tak sengaja lewat atau berkunjung ke tempat itu untuk melihat kalelawar, mereka dengan senang hati hanya membiarkan para pengunjung untuk mempersilahkan mengambil foto atau sekedar mengamati tanpa wajib merogoh kocek sebagai biaya retribusi. 

Mari berwisata ke Kab. Maros :)

Kelas EKONOMI

Selasa, Februari 19, 2013 di Selasa, Februari 19, 2013

(Foto dari Merdeka.Com)

Ada tulisan menarik dari Bapak Yusran Pare yang saya rujuk sepenuhnya. Isinya menggelitik dan cukup menyentil. Sepertinya tulisan ini adalah gambaran potret buram transportasi Indonesia kita. Dimana tak seperti di negara maju lainnya. Konotasi kelas Ekonomi dinegara kita memang masih  semrawut dan masih dipandang sebelah mata bagi kaum ‘The have’ yang senang akan kenyamanan, keamanan plus pencitraan J


Terkadang kemampuan financial kita membuat tak ada pilihan lain untuk memilih  ‘kelas Ekonomi’ Mau tak mau, ketakutan mengenai kerawanan atau kejahatan kejahatan lain yang sering terjadi di kelas ekonomi seperti yang tergambar di berita TV selama ini  tak lagi di indahkan asal bisa sampai ketujuan dengan cepat.


Entah siapa yang memulai menggunakan ‘Ekonomi’ sebagai istilah untuk ke­las paling rendah dalam tingkatan layanan bagi publik. Tak per­caya? Silakan gunakan jasa angkutan umum di darat dan laut.


Duduk di kelas ekonomi rasanya hampir sama dengan kedudukan seekor kam­bing. Apalagi di saat-saat musim libur seperti men­je­lang lebaran dan Tahun baru. Tak percaya?


Pada moda angkutan tersebut, penghuni ke­las ini ham­pir dise­tarakan dengan barang, tanpa jiwa tak bere­mosi. Mari tengok dan rasakan ‘ekonomi’ di kapal-kapal motor yang mem­belah laut menjembatani pu­­­lau-pulau lain di bentangan zamrud khatulistiwa.


Atau, cobalah sesekali naik ke­reta ‘Ekonomi’ dari Jakarta ke Surabaya atau ke mana sajalah jurusannya. Di sinilah sesungguhnya kita merasakan arti “kebersamaan dalam kesengsaraan” sebuah negeri mak­mur dari barat hingga ke timur.


Di kelas ‘ekonomi’ ini pula kita bersama-sama berpeluh, ber­desak, berebut ruang untuk sekadar bernapas, sambil menyak­sikan da­ri balik jendela berkarat, bertapa biru dan luasnya laut. Be­tapa hijau dan permainya ladang, sawah, kebun dan gunung di kiri­-kanan jendela –tanpa kaca– kereta.


Di kelas ‘ekonomi’ pula, kita akan merasakan bagaimana seng­saranya kebersamaan dalam kelaparan dan kehausan terpanggang suhu tanpa berpengatur, antre mendapatkan sepiring nasi dan sepotong ikan entah apa, sementara di bawah kita di kedalaman samudera berjuta-juta ikan menanti dikelola.

Orang bilang, pembagian kelas dalam hal pelayanan kenyamanan adalah sah-sah dan wajar saja. Orang berhak memilih mau dilayani secara mewah, atau secara alakadarnya, terserah, sebab masing-ma­sing memberi konsekuensi sendiri-sendiri.


Namun dalam hal kea­man­­an, tidak ada tawar menawar. Kelas Ve­ry Very Important Person  (V­VIP), kelas Very Impor­tant Person (VI­P), kelas eksekutif, kelas bin­sis, kelas ekonomi, semua berhak mem­peroleh layanan dan ja­minan keamanan yang sama.


Soalnya, musi­bah dan kecelakaan tak mengenal kelas. Ketika Boeing 737 menabrak gedung kembar WTC di New York, penumpang di kelas eko­nomi sama sialnya dengan kelas eksekutif atau bisnis.Begitu pula ketika Garuda terbakar saat mendarat di Yogya tempo hari, atau ketika Adam Air nyemplung ke perairan Majene -Sulawesi Barat. Ketika Kapal Motor Egon kandas di perairan Barito beberapa waktu lalu pun penumpang kelas geladak sama sialnya dengan pe­num­pang kelas I, meski kenyamanan mereka berbeda. Ketika Tampomas II terbakar dan karam di perairan Masalembo, maut tak memilih-milih penumpang kelas mana dahulu yang akan “diambil”.


Tapi ba­gaimana kita bisa mengharap jaminan ke­amanan yang utama jika la­­yanan kenyamanan saja belum kita dapat­kan sesuai dengan ‘kelas’ yang kita ambil? Jika penumpang berstatus ek­se­kutif saja bisa me­nik­mati layanan ketaknyamanan yang sungguh tak selaras dengan ke­las yang didudukinya, apalagi penumpang ke­las “ekonomi.”


Selain mendapat layanan kenyamanan yang sama dengan kambing atau ikan sarden, perlin­dung­an keamanan dan keselamatannya pun sangat alakadarnya. Bahkan ka­dang nyaris tanpa perlindungan sama sekali.


Di pesawat terbang ko­­mersial mungkin kita akan mendapatkannya, tapi hampir pasti tak akan kita peroleh pada moda angkutan darat dan laut. Jika dalam pengelolaan hal angkutan udara kita bisa mengikuti atau mendekati layanan kenyamanan dan keamanan stan­dar seperti yang diberlakukan secara umum di dunia, mengapa pada angkutan darat dan laut tidak?


Boleh jadi, itu sebabnya warga kita cenderung berlomba me­miliki dan menggunakan kendaraan pribadi. Di samping penting un­tuk melengkapi simbol status –agar tidak di kelas “ekonomi” te­rus– juga karena angkutan darat tidak menjanjikan keamanan.


Ada baiknya para wakil rakyat dan para pejabat kita  se­sekali juga bergaya blusukan. Bukan hanya merasakan kelas ekonomi saat musim kampanye saja. Duduk berdampingan bersama rakyatnya di kelas “ekonomi”. Apakah di ka­pal, di kereta Api, atau di bus umum tanpa mengenakan seragam dan atribut mereka. Agar lebih dekat dan merasakan langsung ' romantisme' Kelas Ekonomi .